Sunday, September 7, 2008

Pada Apa Syukur Ini Ku Kirimkan?

Pegangan kiat erat
Langkah kian mantap dan jauh
Dan senyum mengiris manis saban hari
Seperti lepas dari rantai karat dosa-dosa lalu
Belum pernah sebiru ini...
Dengan sepoi, percik embun dibunga dan cericit-cericit menyambutnya,
Pagi.
Belum pernah sebersih ini...
Menyapu lambat seiring tenang penikmat milyaran titik menirai jauh.
Blah.
Dan belum pernah melagu merdu...
Dengan lirik sepemahaman dan musik tung tang lang tlek.
Kami menyunggingi sejarah dengan tawa.
Lihat kami kini,
Lihat!
Pada apa syukur ini ku kirimkan?
Tuhan?
Ah,
Kata orang Kau bilang ini dosa!

27 juli 2006

Saya Bisa Saja Salah, Begitupun Siapa Saja

Saya Bisa Saja Salah, Begitupun Siapa Saja
Betapa besar peran akal menciptakan apa yang disebut perbedaan. Bahwasanya perbedaan bukanlah hanya sebuah “natural condition” yang datang begitu saja sebagaimana pandangan para evolusionis atau “sunatullah” sebagaimana ketentuan-ketentuan lain yang telah ditetapkan Tuhan, tetapi juga bagian yang tak terlepaskan dari subjektivitas manusia sebagai makhluk sempurna, dengan akal, nafsu dan kemerdekaannya atas pilihan-pilihan.
Pilihan-pilihan inilah yang kemudian mengedepankan ke-aku-an manusia yang berdiri atas pembenaran-pembenaran dan juga barangkali di atas “kebenaran” itu sendiri. Pilihan-pilihan tersebut yang di-konklusikan dalam apa yang dinamakan ideologi, idealisme, baik yang bersifat sosial-politis maupun individualistik-yang barangkali sudah tidak bisa di bantah lagi-berangkat dari historikal-kesejarahan seseorang dalam proses enkulturasi pengetahuan sepanjang hidupnya.
Sebut saja skisme (perpecahan) yang terjadi di kalangan kristiani pada masa awal kebangkitan Islam, sebagaimana digambarkan indah oleh Duran:
“ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur, di Barat Kristianitas terbelah menjadi dua: gereja Romawi dan gereja Yunani. Mereka berpisah seperti “a biological species devided in space and diversified in time”. Kristen Yunani berdo’a sambil berdiri, Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman, di Romawi dengan pemercikan. Pernikahan dilarang bagi pastur Romawi, tetapi di bolehkan bagi pastur Yunani. “kiai” Yunani memelihara janggut, sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya…” (Duran, 1950:544 sebagaimana di kutib Jalaluddin Rahmat, 2006:66)
Berikutnya perpecahan ini-setidaknya -telah memposisikan Protestan dan Katolik pada posisi berhadap-hadapan, kalau tidak ingin di sebut berlawanan, bahkan hingga hari ini.
Dalam gambaran lain dapat kita lihat bagaimana pemberontakan Aisyah terhadap kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, pertentangan khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah setelah perjanjian Shiffin, atau perlawanan Husayn ibn Ali terhadap Yazid. Skisme-skisme ini telah melahirkan sampai hari ini polarisasi Sunni-Syiah. Konsep imamah di satu sisi dan khalifah di sudut yang lain. Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Maliki, mazhab-mashab besar yang telah “menggiring” umat Islam dalam kerangka-kerangka keagamaan yang berbeda (baca:beragam), saya fikir adalah bentuk dari pengaruh akal manusia dalam menafsirkan agama itu sendiri. Barangkali karena Al-Qur’an itu sendiri yang menyisakan sebagian ruang bagi penganutnya untuk ber-ijtihad.
Pemahaman-pemahaman ini, perbedaan-perbedaan ini-seperti yang telah disebut di atas- lahir dari proses enkulturasi manusia-manusianya. Baik pembacaan mereka terhadap teks suci yang mutlak sifatnya, juga dari hal-hal lain yang barangkali sering luput dari jangkauan kita dan terutama mereka sendiri.
Satu contoh, seperti apa yang dijelaskan oleh Nicholson (1969), Wellhausen (1927), Goldziher (1967) yang di kutib Jalaluddin Rahmat (2006:81) dalam Jafri (1967), menjelaskan secara historis-antropologis bahwa terjadinya polarisasi di tubuh umat Islam dalam sisi Syi’ah dan Sunni berangkat dari asumsi bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisir atas dasar kesukuan, kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting, dan yang kedua adalah karena bangsa arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri atas dua sub-kultur, Arab Selatan dan Arab Utara, dimana kedua sub-kultur ini menopang Bani Hasyim disatu sisi dan Bani ‘Abd al-Syam (bani Umayyah) disisi yang lain. Selanjutnya dari kedua sub-kultur inilah berkembang skisme Sunni-Syi’ah. (Jalaluddin Rahmat. 2006:84).
Pernyataan ini menjelaskan bagaimana sistem pengetahuan juga terpengaruh dengan apa yang dinamakan pengalaman (historis), dan tentu saja akal berperan penting disini.
Perbedaan-perbedaan ini sebagai hasil dari pengaruh subjektifitas manusia, tidak hanya hinggap dalam wacana-wacana besar seperti yang yang disinggung di atas, tetapi juga merasuki sisi-sisi lain ruang hidup keseharian kita ber-hablu minannas, bernegara, bermasyarakat, dan bekeluarga. Mulai dari “political awareness” masing-masing kubu yang mengusung warna-warni warna dalam konstelasi wacana dan praxis politik, hingga persoalan bagaimana seharusnya ber-otonomi di tengah ke-egoisan masing-masing, pusat dan daerah. Mulai dari pertarungan konsep penerimaan mahasiswa baru sampai pada pilihan berambut panjang dan bersandal jepit-pun jadi hal yang diperdebatkan. Tentu saja-sekali lagi- semua pandangan itu lahir dari satu pengalaman dan pemahaman yang berbeda. Satu hal yang juga tidak terbantahkan adalah-seperti juga wacana-wacana besar di atas, dan barangkali menjadi satu hal yang sama-sama kita takutkan, bahwa kesemua itu tidak jarang yang berakhir pada kesimpulan saling meng-kafirkan (baca:pemaksaan sepihak satu kesimpulan) satu sama lain.
Apa yang akan terjadi dari hal semacam ini adalah satu bentuk dominasi pemahaman satu pihak-para ilmuwan, cendikiawan, penguasa, dan orang-orang beranggapan bahwa dia adalah ”kebenaran”-terhadap suatu diskursus, satu hal yang seharusnya sama-sama kita takutkan. Karena diantaranya akan ada pengedepanan ”self” disatu sisi dan penyingkiran ”others” disisi yang lain. Toh Aliya Harb telah memperingatkan kita bahwa ”kebenaran agama pun sangat relatif sifatnya”.
Yang kita butuhkan hanya komunikasi dan saling menghargai bahwa kita masing-masing menjalankan sebuah proses yang berbeda, dan itu tidaklah salah. Dan membuat kesepakatan yang adil ketika ia saling berbenturan. Kita harus menyadari bahwa apa yang kita ”anggap benar”, hanyalah sebuah ”anggapan”, apa yang kita ”anggap salah”, hanyalah sebuah ”anggapan”, yang bisa saja salah, yang belum tentu adalah kebenaran dan kesalahan itu sendiri, terlepas dari siapa saja yang mengatakannya, saya, anda, dosen, birokrat kampus, penguasa dan siapa saja.
Entah untuk apa tulisan ini harus sebegini panjangnya kalau hanya untuk mengingatkan kita kembali atas sebuah kebijaksanaan dari ali syari’ati ”saya benar, tapi mungkin saja salah. Anda salah, tapi mungkin saja benar”, sebuah ruang yang mesti kita sisihkan untuk sesuatu yang tidak terfikirkan oleh subjektifitas kita sebagai seseorang, terlebih lagi ketika berhadapan dengan yang lain. Sebuah sikap yang optimis terhadap prinsip dan sekaligus keterbukaan dan penghargaan akan perbedaan. Barangkali karena kita tidak terlalu cerdas melihat bahwa penindasan satu atas yang lain itu tidaklah jauh dari kita. Atau barangkali kita bagian dari mereka, entah sebagai penindas, atau sebagai yang ditindas.[2005]

Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi: tentang sebuah buku


Berangkat dari prinsip bahwa teori social bertugas untuk “mengubah realitas social”, bukan sekedar mencoba memahami suatu realitas social, memposisikan teori social berimplikasi pada perubahan social, karena pada dasarnya perubahan social dibangun diatas pemahaman teoritik. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi yang ditulis oleh DR. Mansour Fakih hadir untuk memberikan kepada para aktivis dan ornop pada khususnya untuk merefleksikan kembali teori perubahan social yang menjadi acuan dan landasan ideologis mereka. Dengan arti lain, mencoba menjembatani jarak antara para aktivis lapangan dan berbagai paradigma dan teori ilmu social.
Hal ini juga didorong oleh adanya kerancuan teoritik dan paradigmatic dari banyak para aktivis lapangan dalam melakukan perubahan social. Kerancuan ini antara lain adanya kesalahan penggunaandasar teoritik dan visi ideologis mengenai suatu perubahan social dalam aktivitas praksis sehari-hari, tetapi bertolak belakang dengan tujuan yang mereka cita-citakan.
Hal ini selanjutnya mempengaruhi metodologi yang digunakan, sehingga menempatkan masyarakat sebagai objek yang tentu saja bertolak belakang dengan cita melakukan pemberdayaan masyarakat. Inkonsistensi antara cita dan teori yang digunakan pada akhirnya menghambat peran dan partisipasi masyarakat sebagai pelaku utama dalam perubahan social, demokrasi social, politik, budaya, gender serta aspek social lainnya.
Mansour Fakih juga menyajikan refleksi kritik terhadap posisi teoritik terhadap berbagai teori yang dominant tentang perubahan social dan pembangunan untuk sebuah paradigma altenatif perubahan social.
Dewasa ini terdapat dua paham teori social yang kontradiktif, yakni teori social yang digolongkan pada teori social regulative dan teori social emansipatoris atau juga dikenal dengan “kritis”.
Yang pertama, mempunyai pandangan bahwa teori social harus mengabdi pada stabilitas, pertumbuhan, bersifat objektig secara politik dan bebas nilai. Masyarakat hanya objek pembangunan, direncanakan, diarahkan dan dibina untuk berpartisipasi menurut selera yang mengontrol. Yang berhasil memunculkan kaidah rakayasa social. Teoritisi memiliki otoritas kebenaran dan mengarahkan praktisi dan masyarakat, sehingga aktivis social lapangan dan masyarakat hanya diletakkan sebagai pekerja social tanpa kesadaran ideologis dan teoritis secara kritis.
Yang kedua berfikiran bahwa ilmu social harus melakukan penyadaran kritis pada masyarakat terhadap system dan struktur social dehumanisasi yang membunuh kemanusiaan (counter hegemony: Gramsci), yang mana proses dehumanisasi ini terselenggara melalui mekanisme yang bersifat structural dan sistemik, kekerasan maupun melalui penjinakan yang halus. Paham ini menolak objektivitas dan netralitas ilmu social. Teori social haruslah bersifat subjektif, memihak dan terikat nilai-nilai politik dan kepentingan tertentu. [pandangan ini berdasar pada asumsi bahwa system dan struktur social berada pada posisi penindas, yang melaksanakan praktek dehumanisasi, dan yang menciptakan penjara bagi masyarakat, yang tentu saja terlihat jelas pada pihak mana seharusnya ilmu social harus memihak, yaitu masyarakat. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh paradigma/pendekatan kelas yang menempatkan penindas disatu pihak dan yang tertindas dipihak yang lain]. Namun lebih jauh teori social kritis menganggap ilmu social tidak sekedar diabdikan demi kepentingan golongan lemah dan tertindas, tetapi haruslah berperan pada proses pembentukan kesadaran kritis, baik yang menindas maupun yang tertindas, yang mendominasi dan yang didominasi terhadap system dan struktur social yang tidak adil. Harus mengabdi pada proses transformasi social untuk terciptanya hubungan (struktur) yang baru dan lebih baik, tanpa eksploitasi, penindasan, diskriminasi dan kekerasan. Sehingga ilmu social dan teori social betul-betul mampu memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi.
Pada dasarnya selama ini kata “pembangunan” selalu disejajarkan dengan kata perubahan social. Dalam pandangan ini pembangunan sangat bersifat umum yang nantinya akan melahirkan penjelasan-penjelasan lain seperti pemahaman tentang pembangunan model kapitalistik, sosialistik, dan lain-lain. Kata pembangunan terkesan begitu netral dalam wacana perubahan social. Pembangunan adalah sama dengan perubahan social.
Namun dilain pihak pembangunan dianggap tidaklah bersifat netral, malainkan suatu aliran dan keyakinan ideologis dan teoritis suatu perubahan social. Dalam hal ini teori pembangunan (pembangunanisme: developmentalisme) berdampingan dengan teori-teori perubahan social yang lain seperti sosialisme, dependensia, dan lain-lain.
Jadi dalam pembahasan dari buku Mansour Fakih ini, pembangunan diposisikan dalam pengertian salah satu bentuk dari ideologi dan teori perubahan social. Dengan kata lain, penulis meletakkan pembangunan sebagai suatu teori dibawah payung teori perubahan social.
Adapun poin-poin pokok dalam buku Mansour Fakih ini adalah bahasan mengenai:
Bagaimana dan apa yang mempengaruhi sebuah teori. Pada bagian ini pembahasan difokuskan mengenai paradigma dan perannya dalam membentuk dan memahami teori perubahan social dan pembangunan, pengertian paradigma, paradigma ilmu social menurut Habermars, perspektif Freire dan paradigma-paradigma sosiologis.
Selanjutnya mendeskripsikan paradigma dan teori perubahan social yang mendominasi, yakni yang didasarkan pada kapitalisme dan positivisme. Bahasan teori perubahan social bertitik bertolak pada mainstream pada teori modernisasi dan teori pembangunan pertumbuhan model Rostow, berikut dengan kritiknya.
Juga membahas teori kritik dalam perubahan social dan pembangunan yang mana paradigma dan teori perubahan social marxis serta teori perubahan sosialis termasuk didalamnya.
Selanjutnya memaparkan beberapa teori perubahan alternative, yakni teori feminisme, yang merangkum berbagai pandangan feminisme tentang pembangunan (feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis, feminisme sosialis, dan lain-lain). Selanjutnya teori dan paham sosialis dari teologi pembebasan atau liberasi yang mana paham anti pembangunan yakni analisis social dekonstruksi terhadap developmentalisme termasuk dalam bahasan ini.
Bagaian akhir membahas, akhir dari sejarah perjalanan teori pembangunan, krisis pembangunanisme dan mulainya era globalisasi. Bab ini membahas lebih luas mengenai globalisasi dan berbagai scenario teoritis mengenai formasi social globalisasi dan implikasinya terhadap praktik perubahan social dan ancaman-ancaman bagi masyarakat. Selanjutnya Mansour Fakih juga merefleksikan perjalanan teori perubahan social hingga berakhirnya era developmentalisme dan kemungkinan lahirnya teori pasca pembangunan yang menurutnya bisa saja lahir teori campuran atau konvergensi perubahan social yakni perkawinan dan jalan keluar antara teori modernisasi dengan memperhitungkan kritik dan teori dependensi. Kemungkinan kedua adalah lahirnya teori perubahan social yang terinspirasi oleh paham postmodernisme sebagai jalan keluar pertikaian dua aliran terdahulu, modernisme dan dependensi. [@bdul.april2006]

Sunday, August 31, 2008

The Butterfly Effect: Dari Kepribadian Manusia ke Kebudayaan Manusia

It has been said that something as small as the flutter of butterfly’s wing can ultimately couse a typhoon half way around the world
[chaos theory]
Kepribadian atau personality adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa manusia yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari masing-masing individu manusia.[1] Jadi kepribadian masing-masing manusia yang satu dengan manusia yang lain akan sangat berbeda dan unik. Kepribadian ini merupakan sumber motivasi bagi berbagai tindakan sosial manusia dan sumber ini dipengaruhi oleh faktor eksternal individu yang dikonstruksi kedalam alam sadar, alam bawah sadar (sub-conscious) dan alam tidak sadar manusia (unconscious).[2] Proses yang disebut dengan enkulturasi ini berlangsung dari awal manusia hidup, baik melalui interaksi dan proses belajar. Dari tiga tingkatan kesadaran ini kajian antropologi hanya berbicara dalam proses “sadar” karena untuk proses-proses yang terjadi dalam alam bawah sadar dan alam tidak sadar akan lebih didalami oleh ilmu psikologi (psiko-analisa).
Satu hal yang membingungkan ketika melihat topik tentang kepribadian dalam kelas Pengantar Antropologi adalah hubungan yang sangat jauh antara kajian kepribadian yang bersifat personal dengan ilmu antropologi yang sebagaimana kita ketahui berbicara seputar masyarakat dan kebudayaannya. Namun setelah membalik-balik lagi bahan bacaan yang ada dan berupaya mengingat beberapa hal yang barangkali berkaitan dengan permasalahan ini, maka tidak menjadi sesuatu yang spesial (barangkali karena memang tidak bisa) ketika dua cabang ilmu ini (Antropologi dan Psikologi) kita pisahkan satu sama lain. Seperti halnya ketika kita dinaungi oleh satu sistem kehidupan, begitu juga dengan ilmu pengatahuan yang berada dalam satu sistem yang berkaitan satu sama lain.
Tulisan ini tidak lebih dari sebuah kesimpulan pribadi (katakanlah sebuah resume) dari kuliah pengantar antropologi, yakninya Kepribadian Manusia dan Kebudayaan, dan akan mengkhususkan berbicara tentang bagaimana proses peralihan ilmu atau kajian psikologi yang spesifik keranah antropologi yang lebih general. Dimana nantinya akan terjawab bagaimana kepribadian seseorang (individu) mempengaruhi perilaku dan segala tindakannya dan setiap tindakannya akan mempengaruhi alam semesta (budaya manusia). Nanti juga akan kita lihat bagaimana proses itu berlangsung dalam contoh-contoh dan analogi.
Tadi telah sedikit disinggung bahwa kesadaran manusia itu di(ter)bentuk dalam proses enkulturasi sepanjang hidupnya, sebuah proses interaksi manusia dengan lingkungannya. Proses enkulturasi inilah yang nantinya menyusun sebuah sistem kepribadian yang terdiri atas unsur-unsur pembentuk kepribadian. Yang pertama adalah pengetahuan, yang kedua adalah perasaan dan yang ketiga adalah dorongan naluri.
Pengetahuan lahir melalui proses persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi.
[3] Sedangkan perasaan merupakan suatu keadaan dalam kesdaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dunilainya sebagai sesuatu yang positif atau negatif yang berimbas pada lahirnya kehendak, keinginan, emosi yang bersifat subjektif. Berbeda dengan perasaan yang pada prinsipnya dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang, dorongan naluri tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuan, tetapi karena sudah terkandung dalam organismanya, dan khususnya yang terdapat dalam gen-nya sebagai naluri. Para ahli psikologi menyebut naluri ini sebagai “dorongan” (drive) yang terdiri atas dorongan untuk bertahan hidup, dorongan sex, dorongan untuk berusaha mencari makan, dorongan untuk bergaul dan berintegrasi, dorongan untuk meniru tingkah-laku sesama, dorongan untuk berbakti dan dorongan untuk keindahan. Unsur-unsur inilah yang menjadi motif seseorang melakukan suatu tindakan dalam kehidupannya.
Disini dapat kita lihat bagaimana pengetahuan dengan proses-proses yang melatarbelakanginya (persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi) dan juga perasaan yang juga dibentuk oleh pengaruh pengetahuan, berperan sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Naluri yang bersifat biologis genetik yang boleh dikatakan sudah menjadi general bagi setiap manusia, berbeda dengan pengetahuan dan perasaan yang lahir dari proses-proses yang tidak sama satu manusia dengan manusia lainnya. Proses pengetahuan yang berbeda tentu akan melahirkan pengetahuan dan perasaan yang berbeda pula.
Kembali pada tindakan / prilaku manusia. Seperti yang telah ditegaskan bahwa tindakan dan perilaku manusia itu dipengaruhi oleh sistem pengetahuan, perasaan dan naluri yang dimiliki manusia tersebut. Tindakan-tindakan dan perilaku-perilaku tersebut menyangkut pada pilihan-pilihan sadar maupun tidak sadar hidup seseorang. Ia bisa berbentuk pilihan untuk makan sesuatu, minum sesuatu, belajar sesuatu, memilih mata kuliah tertentu, menulis sesuatu, memilih membeli buku tertentu saja, berbicara dengan seseorang dan tidak berbicara dengan seorang yang lain, berfikir, bergabung dengan satu komunitas, masyarakat, berintegrasi dan berinteraksi, berteman, menikah, memiliki anak, mendidik ataupun tidak ikut campur dalam pendidikan itu, meneriakinya, diam, marah, dan begitu banyak tindakan/prilaku-prilaku lain yang sudah menjadi keseharian manusia yang bisa saja sadar dilakukan, maupun dalam keadaan tidak lagi sadar. Bagaimana dengan kebalikan dari pilihan-pilihan yang telah disebut diatas? Saya fikir itu juga pilihan-pilihan dan bagaimana banyak dan kompleksnya manusia dengan berbagai pilihan-pilihan hidupnya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa setiap pilihan yang dilakukan oleh setiap manusia akan menciptakan satu dunia baru.
[4]
Selanjutnya pilihan-pilihan hidup ini berdialektika dengan pengatahuan, perasaan (baru) dan naluri yang menyusun sistem kepribadian manusia, sehingga melahirkan manusia dengan tindakan dan perilaku yang baru pula. Proses ini terus berlangsung sepanjang sejarah manusia dan membentuk sejarah manusia, baik ia secara individu maupun ia sebagai anggota dari keluarga, anggota dari klen, mayarakat, bangsa. Tidak hanya itu, proses ini juga akan melahirkan dan mempengaruhi semua hal yang berkaitan dengan manusia yang bisa kita sebut dengan manusia dan kebudayaannya.
Untuk mempermudah penjelasan atas hal ini, ada baiknya kita melihatnya dalam contoh-contoh, bagaimana kepribadian itu mampu memberikan pengaruh pada sistem kehidupan manusia.
Kita barangkali tidak pernah menyadari bahwa sesuatu yang kita saksikan hari ini banyak yang disebabkan oleh satu hal yang “sepele” dan tidak masuk akal dari seseorang yang tidak jelas asal-usulnya ditengah masyarakat. Namun sesungguhnya sesuatu itu adalah sangat luar biasa dan berangkat dari satu proses yang tidak pernah terbayangkan sebelumya. Misalnya, tercatat dalam sejarah sebuah bangsa bahwa sebuah kelompok mahasiswa telah menolong dan menyelamatkan pemerintahan dari kehancuran. Hal ini dikarenakan dalam satu diskusi dikalangan mahasiswa, melahirkan beberapa rekomendasi untuk pemerintah dalam hal penanganan dan pemberantasan korupsi dalam birokrasi, sehingga pemerintahan bisa mengambil langkah-langkah nyata penyelamatan negara. Rekomendasi ini lahir dari satu diskusi yang dimulai dari pemaparan salah seorang mahasiswa yang sebelumnya memang sudah diharapkan kehadirannya. Sehingga pada saat berikutnya, mahasiswa-mahasiswa yang lain terpancing memberikan ide-ide cerdasnya.
Barangkali tidak terbayangkan kalau mahasiswa pertama tadi adalah seorang yang sedikit berkepribadian sombong dan angkuh, yang di(ter)bentuk dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya dirumah, sehingga dengan seenaknya merendahkan kawan-kawan yang lain karena alasan ia merasa lebih pintar dan diharapkan. Tentu saja barangkali mahasiswa-mahasiswa yang lain tidak begitu senang karena pengetahuan yang dimiliki oleh kebanyakan anggota diskusi menyatakan bahwa hal yang seperti itu adalah satu hal yang negatif dan merusak perasaan. Penolakan tentu saja tidak dapat terhindarkan, sehingga diskusi tidak berjalan dengan baik dan hasilnyapun tentu tidak sesuai dengan yang diharapkan, menyelamatkan negara. Hal ini juga barangkali dapat disebabkan karena si mahasiswa pertama tadi ternyata tidak menghargai waktu, datang terlambat dan merusak mood kawan-kawan yang lain.
Dari sini dapat kita lihat bagaimana sebuah kepribadian memberikan pengaruh besar terhadap sesuatu didepannya. Kepribadian seseorang yang sombong dan tidak menghargai waktu ternyata telah menghilangkan sebuah harapan penyelamatan negara. Dan sebaliknya seorang mahasiswa yang berkepribadian tidak sombong dan sedikit menghargai waktu telah mampu menciptakan dan mempengaruhi sebuah kelompok diskusi, berperan serta dalam membangun sirkulasi diskusi yang baik sehingga mampu melahirkan rekomendasi penyelamatan negara.
[5] Kepribadian-kepribadian seperti ini tentu saja tidak lahir dengan sendirinya, ia lahir dari proses persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi yang dilalui oleh si mahasiswa sepanjang hidupnya. Termasuk juga dengan apa yang dialami oleh kawan-kawan yang lain perihal sombong dan tidak sombong, tepat waktu dan tidak tepat waktu.
Contoh lain adalah seperti apa yang dianalisis oleh Steven D Levitt dan Stephen J Dubner dalam salah satu tulisannya
[6], bahwa meningkatnya kriminalitas dalam beberapa dekade terakhir adalah sebagai akibat dari di illegalkannya praktek aborsi dibanyak negara. Sebuah keputusan (pilihan) yang banyak diambil banyak pemimpin diberbagai negara, oleh Steven dan Stephen boleh jadi sangat berpengaruh besar pada peningkatan tingkat kejahatan di dunia. Mereka menyebutkan, dengan di illegalkannya praktek aborsi maka akan berdampak makin banyaknya lahir kedunia anak-anak yang katakanlah berlatar belakang sejarah tidak baik yang sebagian besar terdapat didaerah-daerah pinggiran kota. Hal ini akan meningkatkan jumlah anak-anak yang tidak terurus dengan baik akibat kemiskinan. Dan sebagian dari mereka hidup tanpa jati diri karena tidak pernah tahu asal usul, hidup luntang lantung dan berpendidikan rendah. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi alasan bagaimana meningkatnya tingkat kriminalitas di banyak tempat. Dengan begitu, me-legalkan praktek aborsi setidaknya mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya kriminalitas diberbagai tempat. Mungkin terdengar agak sedikit gila, apalagi ditengah pandangan masyarakat kita yang penuh norma. Namun bukan maksud untuk tidak memperdebatkan itu, dalam hal ini saya cuma ingin menggambarkan bagaimana “semua hal” berada dalam satu sistem yang saling mempengaruhi, sekalipun ia suatu hal yang buruk sekalipun.
Satu hal lagi yang menarik untuk dijadikan contoh adalah bagaimana dilingkungan kita sendiri tersusun suatu budaya apatis untuk sebagian besar manusianya (mahasiswanya). Beberapa forum diskusi yang pernah saya ikuti
[7]menilai bahwasanya sebagaian besar mahasiswa di lingkungan fakultas ini sangat apatis dan cenderung tidak sadar politik[8] sedikitpun. Dan kalaupun ada diantara mereka yang memiliki kesadar politik itu, mereka tidak pernah lebih dari hanya mengetahui dan tidak pernah melakukan apa-apa ketika kepentingannya terganggu atau sedikitnya terancam. Kebanyakan hanya diam, dan beberapa hanya mengumpat dibelakang tanpa lakukan apapun yang lebih kongkrit untuk memperjuangkan atau melakukan perubahan.
Barangkali kita tidak akan lakukan analisis mendalam bagaimana kepribadian umum kita selama ini tercipta dari awal waktu hidup kita didunia, namun setidaknya –dalam konteks tulisan ini- kita akan lihat bahwa semua itu juga dipengaruhi oleh sistem penyambutan yang selama ini berlangsung ditengah kehidupan kemahasiswaan.
Secara umum saya sebutkan bawa seluruh sistem penyambutan mahasiswa di lingkungan kampus ini membawa perubahan yang justru tidak membebaskan mereka dari keterkekangan, keterkungkungan –katakanlah dari sejarah, keluarga, sistem feodal, penjajahan dan yang selama ini menjadi jargon kita, sistem sekolah yang tidak lagi cocok dengan dunia kampus- dan hanya mejadikannya mereka orang-orang yang penurut, dan banyak yang tidak berubah sedikitpun seeprti apa yang selama ini diinginkan. Sebut saja rangkaian acara dengan tetek-bengek segala macem, dengan ini dan itu, dan yang lebih penting aturan ini aturan itu, perintah ini perintah itu.
Kebanyakan dari mereka bisa melakukannya dengan senang, menurut saja atas nama perkenalan. Mereka melakukan sesuatu tanpa tahu untuk apa dan ketika ada yang mempertanyakan kenapa, untuk apa, senioritas menjadi jawaban. Hal inilah yang nantinya tertanam secara permanen hari demi hari dalam kepribadian kebanyakan kita, individu-individu yang menurut saja atas semua perintah, aturan, kebijakan, tanpa pernah sadar bahwa itu semua berpengaruh terhadap kepentingan diri pribadi, tentu saja dalam interaksi kita sehari-hari baik dengan pertemanan, dalam kelompok, jurusan, fakultas, universitas, pemerintah dan masyarakat dan bangsa ini.
Dari setiap bentuk kegiatan yang dilakukan akan menegaskan satu kepribadian dalam diri seseorang. Proses enkulturasi yang dijalani setiap orang akan menentukan seperti apa mereka nantinya, orang yang merdeka kah atau hanya menjadi seorang yang terpenjara.
Penggalan kalimat pembuka diatas merupakan kata pembuka dari film the butterfly effect.
[9] Memang sedikit terkesan tidak masuk akal, bahwa satu kepakan sayap kupu-kupu mampu membuat porak-poranda Indonesia karena tornado. Bagaimana bisa? Barangkali pertanyaan kita semua. Namun paparan cerita yang bisa kita saksikan dari film ini membuktikan bahwa semua itu bukanlah akal-akalan penulis skenario saja, namun lebih dari itu ia ia memaparkan bahwa semua hal, walaupun sebuah hal yang kecil sekalipun, dapat memberikan pengaruh yang mungkin saja adalah sesuatu yang besar. Tentu saja kita akan lebih memahami apa yang dimaksud oleh kalimat diatas setelah menyaksikan dengan seksama satu tontonan tersebut. Namun satu yang pasti adalah kepastian bahwa setiap hal yang terjadi hari ini yang menyangkut dengan pilihan-pilihan manusia tidak akan terlepas dari apa yang akan mereka jalani di masa yang akan datang. Sehingga satu kepakan sayap kupu-kupu pun adalah satu hal yang terlalu penting dan berharga untuk tidak diacuhkan.
Terakhir dan sebagai penutup, dibawah ini saya sadurankan beberapa penggal paragraf yang -sekali lagi- menggambarkan bagaimana proses enkulturasi seseorang mempengaruhi pengetahuan dan kepribadian dan bagaimana ia mengubah dunia.
[10]
Adolf murid yang rajin, kalau ulangan tidak pernah curang, hampir tidak pernah mangkir dari sekolah, dan dirapornya selalu berderet huruf A. dia senang menggambar, tak banyak bicara dan tak pernah bikin ulah.satu-satunya keluhan para guru adalah si Adolf ini kurang total meyimak pelajaran. Menurut mereka, dia terlalu berbakat jadi pelamun dan pemimpi. Kampir semua orang khawatir kalau-kalau ia kelak jadi penyair.
Orang-orang menghela nafas lega ketika tahun demi tahun adolf belum juga menampakkan gejala-gejala kreatif yang ditakutkan itu. Malah adolf menampilkan pilihan yang –ditinjau dari kaca mata moneter maupun kebugaran- lebih sehat: adolf ingin jadi tentara.
Namun salah jika dikira adolf akan sembuh dari mimpi hanya karena tidur mengeloni bedil. Di kemudian hari dunia ternganga menghadapi kenyataan antik yang selalu gagal mengejar dia: lebih baik dirundung penyair berpuisi jelek ketimbang pemimpi bersenapan. Lebih-lebih pemimpi bersenapan yang mengira dirinya titisan para dewa dan menulis buku untuk membuktikan teorinya.
Adolf, sang fuhrer, menggelar impian kolosal, melibatkan jutaan figuran yang berperan sebagai korban, mengupah jutaan aktor lain, yang, seperti kata Bertrand Russell, “barangkali beberapa diantaranya benar-benar manusia-manusia keji berdarah dingin, namun sebagian besar mungkin kurang lebih gila.”
Dan sejarah membuktikan bahwa impian adolf bukan hanya kesesatan mental pribadi melainkan impian kebayakan orang. Impian yang ditengah bangsa-bangsa beradab, bangsa-bangsa seklahan, diselundupkan lewat pintu belakang untuk berpesta pora dikegelapan, menunggu hingga iklim memungkinkan pelepasannya kejalanan. Menunggu kemarau kemarahan yang mengabsahkan hujan batu, peluru dan pembumihangusan. Rwanda dan Serbia membuktikan betapa universal impian adolf disegala zaman.
Ibunya yang tak habis-habis mondar-mandir mencuci dan memasak, bapaknya yang sibuk mengangkut setiap sen miliknya ke bank – pernah terbersitkah dikepala mereka bahwa si adolf yang luntang-lantung yang akan mendaftar Akademi Seni Rupa itu kelak akan masuk ensiklopedi tiran segala zaman? Dan adolf pun akan “mencuci” konstelasi ras dan menimbun harta rampasan? Tidak adakah yang bisa mengaku menangkap basah jiwa Adolf kecil sebelum sempai tumbuh lebat? Tidakkah disekolah itu Adolf bukan hanya disuruh menghapal berapa jumlah negara taklukan Alexnder dan berapa besar pasukan Napoleon, tetapi juga disekap hawa agama yang konon menjunjung tinggi cinta-kasih sebagai satu-satunya pegangan?
Di kota kecil Linz yang suram di Austria saat itu, kala guru-guru berciloteh tentang kekaisaran Romawi, Alexander yang Agung, dan Napoleon Bonaparte, ketika si Adolf duduk rapi dibangku sekolah menengah yang kusam, adakah yang tahu bahwa ia menyimak dan memupuk impian dengan segenap jiwanya?
[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta,1990,hal 102
[2] Apakah kepribadian ini juga dipengaruhi oleh faktor internal seperti aspek biologis (seperti gen) manusia adalah pertanyaan lain yang juga menarik untuk ditelusuri. Sejauh ini penulis belum mengetahui perihal yang satu ini.
[3] Lebih lanjut tentang pengertian ini ada dalam buku Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta,1990.
[4] Baca Mimpi-Mimpi Einstein, penerbit dan penulis tidak ingat.
[5] Tentu saja dalam hal ini kita tidak menggunakan logika melompat A menyebabkan Z, tapi A mempengaruhi sehingga lahir Z. Kita tidak bisa menyebutkan bahwa karena ketidaksombongan si mahasiswalah negara bisa terselamatkan, namun ia berperan disana. Dan sudah pasti ada terdapat ribuan, jutaan alasan lain yang mendukung terciptanya diskusi yang baik tersebut, yang mana pada akhirnya alasan-alasan tersebut kembali pada manusia dan kepribadiannya.
[6] Selanjutnya baca, Steven D Levitt dan Stephen J Dubner, Freakonomics, Penguin Books (Australia), 2006.
[7] Bukan forum-forum diskusi formal tetapi, forum-forum diskusi dikalangan mahasiswa saja.
[8] Sadar politik disini tidak dimaksudkan sebagai kesadaran politik secara khusus yang selama ini kita pakai dalam kehidupan kenegaraan, tetapi lebih bersifat general untuk semua hal. Kesadaran diri atas kepentingan-kepentingan pribadi dan kemauan untuk memperjuangkannya.
[9] Eric Bress and J Mackey Gruber, The Butterfly Effect, New Line Cinema, 2002.
[10] Saduran ini diambil dari kata pengantar buku Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis, Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm dkk, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

Inilah tafsiran ku tentang kita, hujan dan hari ini...


Inilah tafsiran ku tentang kita, hujan dan hari ini...

Kita adalah bagian dari cerita di antara ruang-ruang titik-titik yang menirai
Penggalan cerita yang yang misterius sebagai rahasia alam
Menggelayut lincah, bermain ceria menghindari basah

Kita ingin menyibaknya, dengan jari kecil dan keraguan
Di belakang menguntit takut, sebentar lagi cerah...
Ada yang ingin kita cari dan jawab
Tapi tidak betul yakin dengan keinginan sendiri
Melepasnyapun, sepertinya akan menakutkan.

Kembali kita menutup hari ini dengan bisu,
Hanya cumbu hujan
Menyanyikan selamat tidur.

At middle night
09/10/2007

tulisan ini di temukan tanpa judul dan tanggal

Kita sama-sama tau, perjalanan ini akan sangat berat.
Jauh dari yang pernah ku bayangkan,
atau mungkin juga hanya ketakutan.
Tapi bahwa, sungai-sungai ini akan berbatuan, buaya-buaya lapar, lintah berdarah, muara yang menghempas, menyeret ke lautan lepas, tanpa arah, gelap hanya gelap, terang hanya ada siang, hanya siang, adalah pandangan pagi hari kita selepas membuka mata, mengintai dunia.
Ini lah keegoisanku.
Aku akan mati yang juga akan menyeret nyawamu pergi. Tenggelam dalam samudra, tersesat dalam upaya meraih angkasa. Tapi bagiku, matipun aku adalah cerita yang bisa kubisikkan ke anak-anak ku. Bahwa aku menaiki biduk ini dengan satu alasan keyakinan akan kematian itu sendiri.
Seperti harapan kau sebelum tidur semalam, membuka mata di pagi hari, kehangatan pagi dan mentari, tapi hujan dan tak bermentari...
Tetap kau terima karena dia akan membasahimu, dengan senyum dan berkata “hujan takkan memadamkan kobarannya”.
Mengerti kan?

Friday, January 4, 2008

On The Start Line of Bukit Duabelas National Park

Memahami. Barangkali adalah kata yang paling tepat sebagai upaya aktif mengetahui bagaimana Bukit Duabelas dengan segala dinamika kehidupan yang ada di dalamnya. Alam Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dengan berbagai persoalan konservasi dan pergesekan-pergesekan yang ada diantaranya, tetumbuhan dan aneka ragam hayati, sungai-sungai dan hewani yang hidup atasnya, hingga orang rimba dengan komunitas mereka, budaya mereka dan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka. Tulisan ini adalah sebuah laporan singkat hasil dari pengamatan mengenali dan memahami tersebut. Deskripsi yang disajikan adalah pandangan saya secara subjektif selama masa orientasi lapangan yang dilakukan pada tanggal 12-16 Desember 2007, sebagai bagian pengenalan ruang kerja KKI-WARSI di TNBD. Tulisan ini juga tidak akan terlalu sistematis karena dipaparkan sesuai dengan apa yang saya ingat saja dan tentu tetap bisa dipertanggung jawabkan.

Tidak ada target tertentu bagi saya dalam perjalanan awal ini, begitupun sebagai sebuah orientasi bagi staff baru, KKI-WARSI -di mana tempat saya berproses saat ini- tidak memberatkan saya (dan kawan-kawan yang lain) dengan tekanan-tekanan profesionalisme. Sebagai bentuk perkenalan sebagaimana biasanya, kami memulai tanpa ada tendensi apa-apa, mengalir begitu saja, kadang hanya basa-basi, dan tak jarang juga dalam upaya-upaya yang lebih berisi.

Kami (8 orang staff KKI-WARSI yang baru)[1] ditempatkan disalah satu kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, tepatnya di Air Hitam, dimana bermukim satu komunitas (rombong) orang rimba pimpinan Temenggung Tarib. Kami juga didampingi oleh dua orang staff senior pendamping rimba yang sangat membantu dalam proses perkenalan ini.[2]

Sangat sedikit sekali memang, interaksi yang seharusnya bisa dimanfaatkan dalam menyerap informasi, langsung dengan orang rimba itu sendiri. Yang pertama barangkali kami dalam orientasi ini juga bergandengan dengan beberapa agenda lapangan sebagai persiapan penyambutan tamu dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Pembangunan Luar Negeri Norwegia. Walaupun agenda-agenda ini juga mengikutsertakan orang rimba itu sendiri sebagai tuan rumah, namun saya secara pribadi tidak begitu puas dengan interaksi yang terjalin karena lebih terkesan basa-basi yang basi. Dan kesulitan itu tentu saja tidak jauh dari kendala yang kedua, yakni bahasa. Memang secara garis besar bahasa yang mereka gunakan bisa dipahami secara langsung berkaitan dengan latar belakang yang saya miliki, namun tetap saja menjadi satu hal yang sulit ketika harus mengucapkannya dalam bentuk komunikasi aktif. Kami (saya secara pribadi) lebih banyak bersikap pasif, mendengarkan sekaligus berupaya memahami setiap informasi yang sama sekali baru. Perbincangan-perbincangan yang singkat dalam beberapa kesempatan dengan Bepak Tarib di ladang beliau dan dengan beberapa orang rimba sekaligus anak-anak yang tidak bosan-bosannya mampir keperkemahan kami menjadi kesempatan yang luar biasa sehingga mengetahui sedikit sekali bagian-bagian kecil dunia orang rimba. Ketakutan atau lebih tepatnya kehati-hatian mereka terhadap orang luar juga barangkali menjadi alasan lain bagaimana sulitnya interaksi terjalin.

Dari diskusi-diskusi lepas sembari mandi di pinggiran sungai “senamo” di mana kami bermukim, di antara asap tungku dan menunggu meng-gelegak-nya (mendidihnya) air penyiram kopi dan teh pagi hari, antara teriakan burung dan entah juga siamang, hujan dan jalan-jalan tanah basah, pacet dan kayu-kayu kering, dan juga bisikan-bisikan kegembiraan malam dan celoteh pengantar tidur, beberapa informasi berhasil saya dapatkan, yang mana menyebutkan bahwa rombong Tarib ini terdiri dari dua kelompok orang rimba yang menghuni kawasan Air Hitam, tepatnya di sepanjang daerah aliran sungai Senamo.Yang pertama adalah kelompok bepak[3] Betaring dan yang kedua adalah kelompok Tarib sendiri. Dari sini juga diketahui bahwa ternyata masing-masing rombong yang terdapat di seluruh kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas terdiri dari beberapa kelompok yang masing-masing rombong berbeda secara kuantitas. Ada rombong yang memiliki jumlah kelompok empat, lima, enam yang semuanya itu dipimpin oleh satu orang temenggung. Setiap kelompok dalam rombong tersebut terdiri dari beberapa kepala keluarga yang satu sama lain masih terikat dalam satu garis kekerabatan. Adapun jumlah keluarga dalam rombong tarib ini adalah 20 kepala keluarga.

Temenggung Tarib, menjelaskan bagaimana sejarah dari orang rimba di Bukit Duabelas. Secara garis besar, orang-orang rimba yang tersebar di Bukit Duabelas ini dahulunya adalah berasal dari Minangkabau yang karena satu alasan mereka menetap di dalam rimba, beranak pinak dan hidup berdampingan dengan alam hingga sekarang. Penjelasan ini sangat masuk akal mengingat bagaimana banyaknya hal yang secara kultural mempunyai kemiripan dengan budaya melayu minang, mulai dari bahasa hingga nilai-nilai atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang digunakan sebagai pegangan hidup yang mereka sebut sebagai seloka. Saya teringat satu seloka yang disampaikan oleh temenggung Tarib, yang berbunyi “ambil kain ukur di badan, pas sama kita pas sama orang”,[4] dan membandingkannya dengan sebuah “pepatah” dari ranah minang, “lamak di awak katuju di urang”, enak sama kita berarti juga enak sama orang lain. Artinya barangkali setiap tindakan yang akan kita ambil seharusnya melalui sebuah pertimbangan yang matang, merasakan sebab akibat dari tindakan tersebut, sehingga setiap tindakan yang kita lakukan dalam interaksi sehari-hari dapat diterima tidak saja oleh diri sendiri karena senang maupun ingin tapi juga diterima oleh orang lain.

Beberapa hal kecil ini memperkuat asumsi saya atas eksistensi orang rimba secara historis. Yang menarik juga adalah bahwa Ketuhanan Universal yang sering berdengung akhir-akhir ini, juga saya dapatkan dalam penjelasan Temenggung Tarib, tentu saja dengan berangkat dari pemahaman yang serba sedikit juga dari saya tentang konsep ini. Bagaimana mereka memaknai kehidupan, hidup dengan bijaksana, saling mengasihi, saling mengerti, berbuat baik, peduli terhadap alam, sebagai impementasi dari ketaatan atas satu aturan universal, kekuatan agung, tuhan atau apa saja lah namanya. Mereka, orang-oran rimba sangat religius dengan keyakinan mereka.

Orang rimba sangat bersahaja dengan kehidupan mereka, terutama jika dikaitkan dengan perhatian mereka dengan alam dan lingkungan. Ini mudah dipahami ketika kita mengetahui bahwa rimba Bukit Duabelas adalah sumber kehidupan dan tempat berteduh bagi seluruh orang rimba. Pernyataan Temenggung Tarib, yang juga terungkap dalam pertemuan bersama rombongan kementrian dari Norwegia juga menyiratkan bagaimana pentingnya rimba bagi mereka, bahkan sama pentingnya dengan orang-orang yang peduli dari luar rimba itu sendiri, bagi kawasan resapan air dan pelindung lapisan ozon. Bagi orang rimba, rimba adalah tempat hidup mereka, dari air yang mengalir di sungai-sungai, dari tanah di mana tumbuh berbagai kebutuhan hidup sampai binatang-binatang yang hidup di atasnya. Orang rimba juga hidup dari berladang karet dan sawit, selain juga mengambil jernang dan rotan sebagai hasil rimba. Bahkan Temunggung Air Hitam ini juga mengolah sebagian kecil lahan yang dimilikinya di pinggir hutan sebagai tempat pembudidayaan ikan kolam, taman obat-obatan dan tentu saja karet dan sawit.

Interaksi dengan dunia luar yang mereka sebut dengan “Orang Terang”, orang-orang yang mereka defenisikan sebagai orang di luar komunitas mereka, telah menghasilkan pergeseran-pergeseran dalam bentuk besar dan kecil secara berkesinambungan dan dalam jangka waktu yang lama. Tidak jarang juga buah dari interaksi ini menimbulkan konflik dan proteksi yang keras dari orang rimba sendiri. Aturan-aturan nilai, adat, tabu semacam menjadi pagar mereka dari “ancaman luar”, wujud mempertahankan eksistensi. Sebagai orang terang, saya dan teman-teman yang lain –sebagaimana dijelaskan dan diingatkan sebelumnya- berupaya membenamkan diri, bertindak dan berlaku sebagaimana aturan yang mereka pegang. Tata cara pergaulan, di mana laki-laki tidak bisa sembarangan bergaul dan berinteraksi dengan wanita-wanita orang rimba, pilihan-pilihan kata dalam berbicara dalam satu konteks tidak sama dengan konteks yang lainnya. Seperti contoh kata “olen”[5] yang tidak boleh di sebutkan jika berinteraksi dengan perempuan atau di mana ada perempuan di sekitar berlangsungnya perbincangan. Anak-anak rimba ketika saya tanyakan siapa nama bepak atau induk mereka tidak satu pun dari mereka yang menjawab. Mereka mengatakan bahwa itu sesuatu hal yang tidak baik untuk disampaikan, seseorang anak menyebut nama bapaknya atau induknya.

Hal-hal kecil menarik yang juga menjadi perhatian kami adalah bagaimana bijaksananya orang rimba dengan aturan mereka melakukan kegiatan-kegiatan harian semisal buang air kecil dan besar, mandi dan berjalan di tengah rimba. Bahasa-bahasa dan pertanda-pertanda di jadikan instrument dalam melakukan kegiatan tersebut. “oii..jangan kemai, akey ndak benggu/koncing”, menjadi kalimat-kalimat yang sering kami ucapkan bahkan tanpa melakukan kegiatan itu sendiripun. Kondisi alam yang terbuka tentu saja barangkali menjadi alasan kenapa kearifan ini muncul.

Kedekatan orang rimba dengan alam juga terlihat dari bangunan rumah mereka yang tebuat dari kayu-kayu yang diambil dari hutan. Mereka hidup berkelompok yang sepertinya mereka upayakan tidak jauh dari sumber air. Siklus harian mereka pun tidak sekompleks ”orang terang”. Walaupun tidak saya saksikan sepenuhnya namun dari diskusi dengan para pendamping didapatkan gambaran bahwa keseharian mereka diawali dengan ke sungai, mengambil air, berburu, mencari hasil hutan lainnya seperti rotan, membuat ambung bagi yang perempuan selain mengolah hasil buruan para lelaki.

Anak-anak orang rimba pun sudah diberikan tanggung jawab dari dini, sementara banyak anak-anak orang terang seusia mereka masih asik dengan belaian ibu dan pembantu. Bagi kita yang tidak biasa hal ini terkesan terlalu berat bagi mereka, namun begitulah, semacam telah menjadi satu pembagian tugas dan peran di mana di sana mereka sekaligus belajar bertahan hidup. Sebagaimana sewajarnya anak-anak mereka pun tidak lepas dari yang namanya bermain, bergelayutan di ranting-ranting pohon yang hampir menyentuh tanah adalah permainan mereka, menangkap katak, ikan di sungai dan tertawa senang saling membasahi kawan adalah kegembiraan mereka.

Banyak sekali hal-hal baru dan menarik yang saya saksikan dan dengarkan selama masa orientasi, dan sayangnya, jumlah tersebut hampir sama banyaknya dengan yang saya lupakan (tepatnya terlupakan) dan tidak tertuliskan di sini. 6 (enam) hari, sudah barang tentu waktu yang sangat singkat untuk mengetahui semua aspek tentang Taman Nasional Bukit Duabeleas beserta isinya. Ibarat berupaya mengenalinya sampai garis finish (baca: holistik), beranjak dari garis start-pun, belum!!!



[1] Fuad, Dahliana, Koko, Nopri, Andi, Sinta, Opay, dan saya sendiri.

[2] Terimakasih buat bang abdi dan mak etek, telah awali proses ini dengan begitu berarti.

[3] Bepak, adalah sebutan Bapak dalam bahasa orang rimba, sedangkan Ibu disebut dengan Induk.

[4] Seloka ini tentu saja di sebutkan Temenggung Tarib dalam bahasa rimba yang saya artikan sendiri untuk kebutuhan tulisan ini.

[5] Yang artinya tidak jauh berbeda dengan “beik”, dan ”melawon”.