Memahami. Barangkali adalah kata yang paling tepat sebagai upaya aktif mengetahui bagaimana Bukit Duabelas dengan segala dinamika kehidupan yang ada di dalamnya. Alam Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dengan berbagai persoalan konservasi dan pergesekan-pergesekan yang ada diantaranya, tetumbuhan dan aneka ragam hayati, sungai-sungai dan hewani yang hidup atasnya, hingga orang rimba dengan komunitas mereka, budaya mereka dan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka. Tulisan ini adalah sebuah laporan singkat hasil dari pengamatan mengenali dan memahami tersebut. Deskripsi yang disajikan adalah pandangan saya secara subjektif selama masa orientasi lapangan yang dilakukan pada tanggal 12-16 Desember 2007, sebagai bagian pengenalan ruang kerja KKI-WARSI di TNBD. Tulisan ini juga tidak akan terlalu sistematis karena dipaparkan sesuai dengan apa yang saya ingat saja dan tentu tetap bisa dipertanggung jawabkan. Tidak ada target tertentu bagi saya dalam perjalanan awal ini, begitupun sebagai sebuah orientasi bagi staff baru, KKI-WARSI -di mana tempat saya berproses saat ini- tidak memberatkan saya (dan kawan-kawan yang lain) dengan tekanan-tekanan profesionalisme. Sebagai bentuk perkenalan sebagaimana biasanya, kami memulai tanpa ada tendensi apa-apa, mengalir begitu saja, kadang hanya basa-basi, dan tak jarang juga dalam upaya-upaya yang lebih berisi.
Kami (8 orang staff KKI-WARSI yang baru)[1] ditempatkan disalah satu kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, tepatnya di Air Hitam, dimana bermukim satu komunitas (rombong) orang rimba pimpinan Temenggung Tarib. Kami juga didampingi oleh dua orang staff senior pendamping rimba yang sangat membantu dalam proses perkenalan ini.[2]
Sangat sedikit sekali memang, interaksi yang seharusnya bisa dimanfaatkan dalam menyerap informasi, langsung dengan orang rimba itu sendiri. Yang pertama barangkali kami dalam orientasi ini juga bergandengan dengan beberapa agenda lapangan sebagai persiapan penyambutan tamu dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Pembangunan Luar Negeri Norwegia. Walaupun agenda-agenda ini juga mengikutsertakan orang rimba itu sendiri sebagai tuan rumah, namun saya secara pribadi tidak begitu puas dengan interaksi yang terjalin karena lebih terkesan basa-basi yang basi. Dan kesulitan itu tentu saja tidak jauh dari kendala yang kedua, yakni bahasa. Memang secara garis besar bahasa yang mereka gunakan bisa dipahami secara langsung berkaitan dengan latar belakang yang saya miliki, namun tetap saja menjadi satu hal yang sulit ketika harus mengucapkannya dalam bentuk komunikasi aktif. Kami (saya secara pribadi) lebih banyak bersikap pasif, mendengarkan sekaligus berupaya memahami setiap informasi yang sama sekali baru. Perbincangan-perbincangan yang singkat dalam beberapa kesempatan dengan Bepak Tarib di ladang beliau dan dengan beberapa orang rimba sekaligus anak-anak yang tidak bosan-bosannya mampir keperkemahan kami menjadi kesempatan yang luar biasa sehingga mengetahui sedikit sekali bagian-bagian kecil dunia orang rimba. Ketakutan atau lebih tepatnya kehati-hatian mereka terhadap orang luar juga barangkali menjadi alasan lain bagaimana sulitnya interaksi terjalin.
Dari diskusi-diskusi lepas sembari mandi di pinggiran sungai “senamo” di mana kami bermukim, di antara asap tungku dan menunggu meng-gelegak-nya (mendidihnya) air penyiram kopi dan teh pagi hari, antara teriakan burung dan entah juga siamang, hujan dan jalan-jalan tanah basah, pacet dan kayu-kayu kering, dan juga bisikan-bisikan kegembiraan malam dan celoteh pengantar tidur, beberapa informasi berhasil saya dapatkan, yang mana menyebutkan bahwa rombong Tarib ini terdiri dari dua kelompok orang rimba yang menghuni kawasan Air Hitam, tepatnya di sepanjang daerah aliran sungai Senamo.Yang pertama adalah kelompok bepak[3] Betaring dan yang kedua adalah kelompok Tarib sendiri. Dari sini juga diketahui bahwa ternyata masing-masing rombong yang terdapat di seluruh kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas terdiri dari beberapa kelompok yang masing-masing rombong berbeda secara kuantitas. Ada rombong yang memiliki jumlah kelompok empat, lima, enam yang semuanya itu dipimpin oleh satu orang temenggung. Setiap kelompok dalam rombong tersebut terdiri dari beberapa kepala keluarga yang satu sama lain masih terikat dalam satu garis kekerabatan. Adapun jumlah keluarga dalam rombong tarib ini adalah 20 kepala keluarga.
Temenggung Tarib, menjelaskan bagaimana sejarah dari orang rimba di Bukit Duabelas. Secara garis besar, orang-orang rimba yang tersebar di Bukit Duabelas ini dahulunya adalah berasal dari Minangkabau yang karena satu alasan mereka menetap di dalam rimba, beranak pinak dan hidup berdampingan dengan alam hingga sekarang. Penjelasan ini sangat masuk akal mengingat bagaimana banyaknya hal yang secara kultural mempunyai kemiripan dengan budaya melayu minang, mulai dari bahasa hingga nilai-nilai atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang digunakan sebagai pegangan hidup yang mereka sebut sebagai seloka. Saya teringat satu seloka yang disampaikan oleh temenggung Tarib, yang berbunyi “ambil kain ukur di badan, pas sama kita pas sama orang”,[4] dan membandingkannya dengan sebuah “pepatah” dari ranah minang, “lamak di awak katuju di urang”, enak sama kita berarti juga enak sama orang lain. Artinya barangkali setiap tindakan yang akan kita ambil seharusnya melalui sebuah pertimbangan yang matang, merasakan sebab akibat dari tindakan tersebut, sehingga setiap tindakan yang kita lakukan dalam interaksi sehari-hari dapat diterima tidak saja oleh diri sendiri karena senang maupun ingin tapi juga diterima oleh orang lain.
Beberapa hal kecil ini memperkuat asumsi saya atas eksistensi orang rimba secara historis. Yang menarik juga adalah bahwa Ketuhanan Universal yang sering berdengung akhir-akhir ini, juga saya dapatkan dalam penjelasan Temenggung Tarib, tentu saja dengan berangkat dari pemahaman yang serba sedikit juga dari saya tentang konsep ini. Bagaimana mereka memaknai kehidupan, hidup dengan bijaksana, saling mengasihi, saling mengerti, berbuat baik, peduli terhadap alam, sebagai impementasi dari ketaatan atas satu aturan universal, kekuatan agung, tuhan atau apa saja lah namanya. Mereka, orang-oran rimba sangat religius dengan keyakinan mereka.
Orang rimba sangat bersahaja dengan kehidupan mereka, terutama jika dikaitkan dengan perhatian mereka dengan alam dan lingkungan. Ini mudah dipahami ketika kita mengetahui bahwa rimba Bukit Duabelas adalah sumber kehidupan dan tempat berteduh bagi seluruh orang rimba. Pernyataan Temenggung Tarib, yang juga terungkap dalam pertemuan bersama rombongan kementrian dari Norwegia juga menyiratkan bagaimana pentingnya rimba bagi mereka, bahkan sama pentingnya dengan orang-orang yang peduli dari luar rimba itu sendiri, bagi kawasan resapan air dan pelindung lapisan ozon. Bagi orang rimba, rimba adalah tempat hidup mereka, dari air yang mengalir di sungai-sungai, dari tanah di mana tumbuh berbagai kebutuhan hidup sampai binatang-binatang yang hidup di atasnya. Orang rimba juga hidup dari berladang karet dan sawit, selain juga mengambil jernang dan rotan sebagai hasil rimba. Bahkan Temunggung Air Hitam ini juga mengolah sebagian kecil lahan yang dimilikinya di pinggir hutan sebagai tempat pembudidayaan ikan kolam, taman obat-obatan dan tentu saja karet dan sawit.
Interaksi dengan dunia luar yang mereka sebut dengan “Orang Terang”, orang-orang yang mereka defenisikan sebagai orang di luar komunitas mereka, telah menghasilkan pergeseran-pergeseran dalam bentuk besar dan kecil secara berkesinambungan dan dalam jangka waktu yang lama. Tidak jarang juga buah dari interaksi ini menimbulkan konflik dan proteksi yang keras dari orang rimba sendiri. Aturan-aturan nilai, adat, tabu semacam menjadi pagar mereka dari “ancaman luar”, wujud mempertahankan eksistensi. Sebagai orang terang, saya dan teman-teman yang lain –sebagaimana dijelaskan dan diingatkan sebelumnya- berupaya membenamkan diri, bertindak dan berlaku sebagaimana aturan yang mereka pegang. Tata cara pergaulan, di mana laki-laki tidak bisa sembarangan bergaul dan berinteraksi dengan wanita-wanita orang rimba, pilihan-pilihan kata dalam berbicara dalam satu konteks tidak sama dengan konteks yang lainnya. Seperti contoh kata “olen”[5] yang tidak boleh di sebutkan jika berinteraksi dengan perempuan atau di mana ada perempuan di sekitar berlangsungnya perbincangan. Anak-anak rimba ketika saya tanyakan siapa nama bepak atau induk mereka tidak satu pun dari mereka yang menjawab. Mereka mengatakan bahwa itu sesuatu hal yang tidak baik untuk disampaikan, seseorang anak menyebut nama bapaknya atau induknya.
Hal-hal kecil menarik yang juga menjadi perhatian kami adalah bagaimana bijaksananya orang rimba dengan aturan mereka melakukan kegiatan-kegiatan harian semisal buang air kecil dan besar, mandi dan berjalan di tengah rimba. Bahasa-bahasa dan pertanda-pertanda di jadikan instrument dalam melakukan kegiatan tersebut. “oii..jangan kemai, akey ndak benggu/koncing”, menjadi kalimat-kalimat yang sering kami ucapkan bahkan tanpa melakukan kegiatan itu sendiripun. Kondisi alam yang terbuka tentu saja barangkali menjadi alasan kenapa kearifan ini muncul.
Kedekatan orang rimba dengan alam juga terlihat dari bangunan rumah mereka yang tebuat dari kayu-kayu yang diambil dari hutan. Mereka hidup berkelompok yang sepertinya mereka upayakan tidak jauh dari sumber air. Siklus harian mereka pun tidak sekompleks ”orang terang”. Walaupun tidak saya saksikan sepenuhnya namun dari diskusi dengan para pendamping didapatkan gambaran bahwa keseharian mereka diawali dengan ke sungai, mengambil air, berburu, mencari hasil hutan lainnya seperti rotan, membuat ambung bagi yang perempuan selain mengolah hasil buruan para lelaki.
Anak-anak orang rimba pun sudah diberikan tanggung jawab dari dini, sementara banyak anak-anak orang terang seusia mereka masih asik dengan belaian ibu dan pembantu. Bagi kita yang tidak biasa hal ini terkesan terlalu berat bagi mereka, namun begitulah, semacam telah menjadi satu pembagian tugas dan peran di mana di sana mereka sekaligus belajar bertahan hidup. Sebagaimana sewajarnya anak-anak mereka pun tidak lepas dari yang namanya bermain, bergelayutan di ranting-ranting pohon yang hampir menyentuh tanah adalah permainan mereka, menangkap katak, ikan di sungai dan tertawa senang saling membasahi kawan adalah kegembiraan mereka.
Banyak sekali hal-hal baru dan menarik yang saya saksikan dan dengarkan selama masa orientasi, dan sayangnya, jumlah tersebut hampir sama banyaknya dengan yang saya lupakan (tepatnya terlupakan) dan tidak tertuliskan di sini. 6 (enam) hari, sudah barang tentu waktu yang sangat singkat untuk mengetahui semua aspek tentang Taman Nasional Bukit Duabeleas beserta isinya. Ibarat berupaya mengenalinya sampai garis finish (baca: holistik), beranjak dari garis start-pun, belum!!!
[1] Fuad, Dahliana, Koko, Nopri, Andi, Sinta, Opay, dan saya sendiri.
[2] Terimakasih buat bang abdi dan mak etek, telah awali proses ini dengan begitu berarti.
[3] Bepak, adalah sebutan Bapak dalam bahasa orang rimba, sedangkan Ibu disebut dengan Induk.
[4] Seloka ini tentu saja di sebutkan Temenggung Tarib dalam bahasa rimba yang saya artikan sendiri untuk kebutuhan tulisan ini.
[5] Yang artinya tidak jauh berbeda dengan “beik”, dan ”melawon”.
