
entah berapa kali ku pertimbangkan untuk pulang. karena ku tahu, semua tidak akan seperti yang kau harapkan. aku akan seperti biasa, datang, makan, duduk di depan kalian, televisi, namun jauh dibelakang ataupun di depan dengan kesendirian. namun tawa ponakan, begitu merinduiku. kupaksakan menyusun langkah, membangun tawa dan datanglah aku pada kalian.
dan seperti biasanya, aku tidak akan tahan dengan keegoisan ini, tentang kegilaan yang tidak sanggup ku tawarkan pada kalian. jadilah seperti biasa, datang, makan, duduk di hadapan kalian, televisi dimana aku jauh di belakang ataupun di depan kalian, dengan kegilaan fikiran.
itulah aku seperti yang seperti biasanya, tapi setidaknya kali ini aku tahu apa yang aku usahakan simpan dari jangkauan kalian. tentang sebagian diri yang telah kutitipkan dikejauhan. setidaknya aku belum lagi sanggup membaginya dengan kalian.
begitulah, bertanyalah ibu. sepedarahanku. yang semua keburukannya terhapus oleh semua cintanya pada ku. namun seperti yang kubilang, tidak ada kata yang tepat atau barangkali ketidaksiapanku dengan apa yang akan terjadi, yang akan keluar dari pembijakannya. aku terdiam dengan kesibukanku yang membantu jauh darinya. berdusta dan mendustai aku dan kalian. lihatlah aku, yang belum lagi sanggup menjadi diri sendiri, yang belum lagi sanggup menantang matanya, dan barangkali air matanya.
ahh...
aku pergi lagi seperti biasanya. dengan bertumpuk file dikepala yang belum bisa ku bacakan dihadapanmu ibu. dengan meninggalkan kesedihan yang tak lagi ber air mata, terlalu banyak yang kau berikan pada ku.
suatu hari nanti ibu, akan kubeberkan apa yang hari ini kujanjikan, yang hari ini lagi buat kau menangis, yang walaupun itu tak ingin kau dengar, yang walaupun itu adalah dosa...
28maret2007
