Tuesday, October 9, 2007

untuk ibu


entah berapa kali ku pertimbangkan untuk pulang. karena ku tahu, semua tidak akan seperti yang kau harapkan. aku akan seperti biasa, datang, makan, duduk di depan kalian, televisi, namun jauh dibelakang ataupun di depan dengan kesendirian. namun tawa ponakan, begitu merinduiku. kupaksakan menyusun langkah, membangun tawa dan datanglah aku pada kalian.
dan seperti biasanya, aku tidak akan tahan dengan keegoisan ini, tentang kegilaan yang tidak sanggup ku tawarkan pada kalian. jadilah seperti biasa, datang, makan, duduk di hadapan kalian, televisi dimana aku jauh di belakang ataupun di depan kalian, dengan kegilaan fikiran.
itulah aku seperti yang seperti biasanya, tapi setidaknya kali ini aku tahu apa yang aku usahakan simpan dari jangkauan kalian. tentang sebagian diri yang telah kutitipkan dikejauhan. setidaknya aku belum lagi sanggup membaginya dengan kalian.
begitulah, bertanyalah ibu. sepedarahanku. yang semua keburukannya terhapus oleh semua cintanya pada ku. namun seperti yang kubilang, tidak ada kata yang tepat atau barangkali ketidaksiapanku dengan apa yang akan terjadi, yang akan keluar dari pembijakannya. aku terdiam dengan kesibukanku yang membantu jauh darinya. berdusta dan mendustai aku dan kalian. lihatlah aku, yang belum lagi sanggup menjadi diri sendiri, yang belum lagi sanggup menantang matanya, dan barangkali air matanya.
ahh...
aku pergi lagi seperti biasanya. dengan bertumpuk file dikepala yang belum bisa ku bacakan dihadapanmu ibu. dengan meninggalkan kesedihan yang tak lagi ber air mata, terlalu banyak yang kau berikan pada ku.
suatu hari nanti ibu, akan kubeberkan apa yang hari ini kujanjikan, yang hari ini lagi buat kau menangis, yang walaupun itu tak ingin kau dengar, yang walaupun itu adalah dosa...
28maret2007

sungai kecil sajalah...


Aku tak bisa tidur. Begitu ingin memikirkan sesuatu, tetapi semua hanya berkelabat dan tak tertangkap. Tentang masa depan yang rindu dicapai dan sejarah yang membelenggu. Aku terperangkap dalam ruang transisi, masa lalu dan harapan keinginan masa depan. Hah...pantaskah kusebut ia membelenggu?
Tapi bukankah selalu begitu, bukankah hidup itu disitu, di dunia ketidakjelasan, di dunia yang membingungkan, di dunia yang mesti berimbang, di dunia yang terikat antara dua hal berlawanan sampai akhirnya mati dalam suraga atau neraka.
Tapi benarkah sejarah seperti itu? Atau ini hanya pengkambing-hitamanku saja atasnya atas ketakutan ku?
Sejarahku adalah sejarahku. Ia adalah fondasi kekar hidup ku hari ini. Entah pendirian ini dibangun dari serpihan sampah kebodohan atau cadas-cadas kokoh penopang gunung, terserah, ia adalah dimana aku berdiri hari ini. Sebuah arsitektur kehidupan seorang individu, yang mencerna, membaca, melihat, bergeser setiap detiknya, menjadi hari perharinya, menyempurnai diri, berdialektika, mundur, progresiv, hancur dan membangun lagi, hingga di tiap penghujung malam menutupnya dengan kata “inilah aku hari ini”, dan besok adalah hari yang baru, dengan harapan atau mati.
Tapi aku tak bisa tidur...
Kuatkah aku menjelaskan ke dunia bahwa perjalananku akan menjauhi mereka. Berlayar kelaut dengan anak sungai kecil ditengah rimba. Kautkah aku membantah seruan “hei, arungi saja sungai besar ini, leluhurmu telah bangun paket perjalanan nan indah tanpa batu-batu air yang mengganggu, rakit kecil mu dan buku-buku itu akan sampai dengan aman”. Semua akan sangat aman bagi mereka. Tapi perjalanan harus indah, perjalanan harus menyenangkan, perjalanan harus menyisakan cerita indah tentang petualangan, keyakinan dan kebahagiaan. Dan kebahagiaanku, kebahagaianku...
Hidup dialiran sungai buatan leluhur. Menyenangkan, sepantarannya adalah kesenangan masa muda, dengan kemuliaan, petunjuk bahwa kelak kau besar ber-arung-lah kehilir, dengan nyanyian ibu diperbekalan, menyusuri arus besar yang telah digariskan para leluhur. Jangan terpisah dari kerumunan, karena buaya-buaya rimba takut kerumunan kita, karena ular, nyamuk dan lintah hanya ada di dalam sana, karena batu-batu besar dan kecil tidak akan halangimu menggapai samudera.
Inikah skenario yang menampar wajah penulisnya.
Sungai kecil itu begitu merayuku. Cerita dongeng tentang alam rimba yang luas dengan kancil yang menjadi mangsa harian para singa, dengan keragaman daun, bunga dan cinta. Dengan keganasan batu-batu yang akan merobek lambung perahu kecilku, dan juga kejernihan, ikan-ikan, burung, dan kealamian yang terlupakan.
Betul disana dimana buaya dan lintah-lintah dibuang, yang menjadikan rimba adalah ketakutan yang nyata, gelap dan berbatu yang didirikan atas ijtihad-ijtihad eksklusif para leluhur, tetapi ttap ada kehidupan disana, yang damai dan tenang, yang akan memuaskan satu sisi lain dari sebuah perjalanan. Perjalanan ku.
Aku ingin pergi, menyusuri sungai kecil di tengah rimba, dengan perahu kecil dan dengan nyanyian ibu diperbekalan.
Tapi bekalku!!![]abdulfeb2007