It has been said that something as small as the flutter of butterfly’s wing can ultimately couse a typhoon half way around the world
[chaos theory]
[chaos theory]
Kepribadian atau personality adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa manusia yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari masing-masing individu manusia.[1] Jadi kepribadian masing-masing manusia yang satu dengan manusia yang lain akan sangat berbeda dan unik. Kepribadian ini merupakan sumber motivasi bagi berbagai tindakan sosial manusia dan sumber ini dipengaruhi oleh faktor eksternal individu yang dikonstruksi kedalam alam sadar, alam bawah sadar (sub-conscious) dan alam tidak sadar manusia (unconscious).[2] Proses yang disebut dengan enkulturasi ini berlangsung dari awal manusia hidup, baik melalui interaksi dan proses belajar. Dari tiga tingkatan kesadaran ini kajian antropologi hanya berbicara dalam proses “sadar” karena untuk proses-proses yang terjadi dalam alam bawah sadar dan alam tidak sadar akan lebih didalami oleh ilmu psikologi (psiko-analisa).
Satu hal yang membingungkan ketika melihat topik tentang kepribadian dalam kelas Pengantar Antropologi adalah hubungan yang sangat jauh antara kajian kepribadian yang bersifat personal dengan ilmu antropologi yang sebagaimana kita ketahui berbicara seputar masyarakat dan kebudayaannya. Namun setelah membalik-balik lagi bahan bacaan yang ada dan berupaya mengingat beberapa hal yang barangkali berkaitan dengan permasalahan ini, maka tidak menjadi sesuatu yang spesial (barangkali karena memang tidak bisa) ketika dua cabang ilmu ini (Antropologi dan Psikologi) kita pisahkan satu sama lain. Seperti halnya ketika kita dinaungi oleh satu sistem kehidupan, begitu juga dengan ilmu pengatahuan yang berada dalam satu sistem yang berkaitan satu sama lain.
Tulisan ini tidak lebih dari sebuah kesimpulan pribadi (katakanlah sebuah resume) dari kuliah pengantar antropologi, yakninya Kepribadian Manusia dan Kebudayaan, dan akan mengkhususkan berbicara tentang bagaimana proses peralihan ilmu atau kajian psikologi yang spesifik keranah antropologi yang lebih general. Dimana nantinya akan terjawab bagaimana kepribadian seseorang (individu) mempengaruhi perilaku dan segala tindakannya dan setiap tindakannya akan mempengaruhi alam semesta (budaya manusia). Nanti juga akan kita lihat bagaimana proses itu berlangsung dalam contoh-contoh dan analogi.
Tadi telah sedikit disinggung bahwa kesadaran manusia itu di(ter)bentuk dalam proses enkulturasi sepanjang hidupnya, sebuah proses interaksi manusia dengan lingkungannya. Proses enkulturasi inilah yang nantinya menyusun sebuah sistem kepribadian yang terdiri atas unsur-unsur pembentuk kepribadian. Yang pertama adalah pengetahuan, yang kedua adalah perasaan dan yang ketiga adalah dorongan naluri.
Pengetahuan lahir melalui proses persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi.[3] Sedangkan perasaan merupakan suatu keadaan dalam kesdaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dunilainya sebagai sesuatu yang positif atau negatif yang berimbas pada lahirnya kehendak, keinginan, emosi yang bersifat subjektif. Berbeda dengan perasaan yang pada prinsipnya dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang, dorongan naluri tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuan, tetapi karena sudah terkandung dalam organismanya, dan khususnya yang terdapat dalam gen-nya sebagai naluri. Para ahli psikologi menyebut naluri ini sebagai “dorongan” (drive) yang terdiri atas dorongan untuk bertahan hidup, dorongan sex, dorongan untuk berusaha mencari makan, dorongan untuk bergaul dan berintegrasi, dorongan untuk meniru tingkah-laku sesama, dorongan untuk berbakti dan dorongan untuk keindahan. Unsur-unsur inilah yang menjadi motif seseorang melakukan suatu tindakan dalam kehidupannya.
Disini dapat kita lihat bagaimana pengetahuan dengan proses-proses yang melatarbelakanginya (persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi) dan juga perasaan yang juga dibentuk oleh pengaruh pengetahuan, berperan sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Naluri yang bersifat biologis genetik yang boleh dikatakan sudah menjadi general bagi setiap manusia, berbeda dengan pengetahuan dan perasaan yang lahir dari proses-proses yang tidak sama satu manusia dengan manusia lainnya. Proses pengetahuan yang berbeda tentu akan melahirkan pengetahuan dan perasaan yang berbeda pula.
Kembali pada tindakan / prilaku manusia. Seperti yang telah ditegaskan bahwa tindakan dan perilaku manusia itu dipengaruhi oleh sistem pengetahuan, perasaan dan naluri yang dimiliki manusia tersebut. Tindakan-tindakan dan perilaku-perilaku tersebut menyangkut pada pilihan-pilihan sadar maupun tidak sadar hidup seseorang. Ia bisa berbentuk pilihan untuk makan sesuatu, minum sesuatu, belajar sesuatu, memilih mata kuliah tertentu, menulis sesuatu, memilih membeli buku tertentu saja, berbicara dengan seseorang dan tidak berbicara dengan seorang yang lain, berfikir, bergabung dengan satu komunitas, masyarakat, berintegrasi dan berinteraksi, berteman, menikah, memiliki anak, mendidik ataupun tidak ikut campur dalam pendidikan itu, meneriakinya, diam, marah, dan begitu banyak tindakan/prilaku-prilaku lain yang sudah menjadi keseharian manusia yang bisa saja sadar dilakukan, maupun dalam keadaan tidak lagi sadar. Bagaimana dengan kebalikan dari pilihan-pilihan yang telah disebut diatas? Saya fikir itu juga pilihan-pilihan dan bagaimana banyak dan kompleksnya manusia dengan berbagai pilihan-pilihan hidupnya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa setiap pilihan yang dilakukan oleh setiap manusia akan menciptakan satu dunia baru.[4]
Selanjutnya pilihan-pilihan hidup ini berdialektika dengan pengatahuan, perasaan (baru) dan naluri yang menyusun sistem kepribadian manusia, sehingga melahirkan manusia dengan tindakan dan perilaku yang baru pula. Proses ini terus berlangsung sepanjang sejarah manusia dan membentuk sejarah manusia, baik ia secara individu maupun ia sebagai anggota dari keluarga, anggota dari klen, mayarakat, bangsa. Tidak hanya itu, proses ini juga akan melahirkan dan mempengaruhi semua hal yang berkaitan dengan manusia yang bisa kita sebut dengan manusia dan kebudayaannya.
Untuk mempermudah penjelasan atas hal ini, ada baiknya kita melihatnya dalam contoh-contoh, bagaimana kepribadian itu mampu memberikan pengaruh pada sistem kehidupan manusia.
Kita barangkali tidak pernah menyadari bahwa sesuatu yang kita saksikan hari ini banyak yang disebabkan oleh satu hal yang “sepele” dan tidak masuk akal dari seseorang yang tidak jelas asal-usulnya ditengah masyarakat. Namun sesungguhnya sesuatu itu adalah sangat luar biasa dan berangkat dari satu proses yang tidak pernah terbayangkan sebelumya. Misalnya, tercatat dalam sejarah sebuah bangsa bahwa sebuah kelompok mahasiswa telah menolong dan menyelamatkan pemerintahan dari kehancuran. Hal ini dikarenakan dalam satu diskusi dikalangan mahasiswa, melahirkan beberapa rekomendasi untuk pemerintah dalam hal penanganan dan pemberantasan korupsi dalam birokrasi, sehingga pemerintahan bisa mengambil langkah-langkah nyata penyelamatan negara. Rekomendasi ini lahir dari satu diskusi yang dimulai dari pemaparan salah seorang mahasiswa yang sebelumnya memang sudah diharapkan kehadirannya. Sehingga pada saat berikutnya, mahasiswa-mahasiswa yang lain terpancing memberikan ide-ide cerdasnya.
Barangkali tidak terbayangkan kalau mahasiswa pertama tadi adalah seorang yang sedikit berkepribadian sombong dan angkuh, yang di(ter)bentuk dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya dirumah, sehingga dengan seenaknya merendahkan kawan-kawan yang lain karena alasan ia merasa lebih pintar dan diharapkan. Tentu saja barangkali mahasiswa-mahasiswa yang lain tidak begitu senang karena pengetahuan yang dimiliki oleh kebanyakan anggota diskusi menyatakan bahwa hal yang seperti itu adalah satu hal yang negatif dan merusak perasaan. Penolakan tentu saja tidak dapat terhindarkan, sehingga diskusi tidak berjalan dengan baik dan hasilnyapun tentu tidak sesuai dengan yang diharapkan, menyelamatkan negara. Hal ini juga barangkali dapat disebabkan karena si mahasiswa pertama tadi ternyata tidak menghargai waktu, datang terlambat dan merusak mood kawan-kawan yang lain.
Dari sini dapat kita lihat bagaimana sebuah kepribadian memberikan pengaruh besar terhadap sesuatu didepannya. Kepribadian seseorang yang sombong dan tidak menghargai waktu ternyata telah menghilangkan sebuah harapan penyelamatan negara. Dan sebaliknya seorang mahasiswa yang berkepribadian tidak sombong dan sedikit menghargai waktu telah mampu menciptakan dan mempengaruhi sebuah kelompok diskusi, berperan serta dalam membangun sirkulasi diskusi yang baik sehingga mampu melahirkan rekomendasi penyelamatan negara.[5] Kepribadian-kepribadian seperti ini tentu saja tidak lahir dengan sendirinya, ia lahir dari proses persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi yang dilalui oleh si mahasiswa sepanjang hidupnya. Termasuk juga dengan apa yang dialami oleh kawan-kawan yang lain perihal sombong dan tidak sombong, tepat waktu dan tidak tepat waktu.
Contoh lain adalah seperti apa yang dianalisis oleh Steven D Levitt dan Stephen J Dubner dalam salah satu tulisannya[6], bahwa meningkatnya kriminalitas dalam beberapa dekade terakhir adalah sebagai akibat dari di illegalkannya praktek aborsi dibanyak negara. Sebuah keputusan (pilihan) yang banyak diambil banyak pemimpin diberbagai negara, oleh Steven dan Stephen boleh jadi sangat berpengaruh besar pada peningkatan tingkat kejahatan di dunia. Mereka menyebutkan, dengan di illegalkannya praktek aborsi maka akan berdampak makin banyaknya lahir kedunia anak-anak yang katakanlah berlatar belakang sejarah tidak baik yang sebagian besar terdapat didaerah-daerah pinggiran kota. Hal ini akan meningkatkan jumlah anak-anak yang tidak terurus dengan baik akibat kemiskinan. Dan sebagian dari mereka hidup tanpa jati diri karena tidak pernah tahu asal usul, hidup luntang lantung dan berpendidikan rendah. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi alasan bagaimana meningkatnya tingkat kriminalitas di banyak tempat. Dengan begitu, me-legalkan praktek aborsi setidaknya mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya kriminalitas diberbagai tempat. Mungkin terdengar agak sedikit gila, apalagi ditengah pandangan masyarakat kita yang penuh norma. Namun bukan maksud untuk tidak memperdebatkan itu, dalam hal ini saya cuma ingin menggambarkan bagaimana “semua hal” berada dalam satu sistem yang saling mempengaruhi, sekalipun ia suatu hal yang buruk sekalipun.
Satu hal lagi yang menarik untuk dijadikan contoh adalah bagaimana dilingkungan kita sendiri tersusun suatu budaya apatis untuk sebagian besar manusianya (mahasiswanya). Beberapa forum diskusi yang pernah saya ikuti [7]menilai bahwasanya sebagaian besar mahasiswa di lingkungan fakultas ini sangat apatis dan cenderung tidak sadar politik[8] sedikitpun. Dan kalaupun ada diantara mereka yang memiliki kesadar politik itu, mereka tidak pernah lebih dari hanya mengetahui dan tidak pernah melakukan apa-apa ketika kepentingannya terganggu atau sedikitnya terancam. Kebanyakan hanya diam, dan beberapa hanya mengumpat dibelakang tanpa lakukan apapun yang lebih kongkrit untuk memperjuangkan atau melakukan perubahan.
Barangkali kita tidak akan lakukan analisis mendalam bagaimana kepribadian umum kita selama ini tercipta dari awal waktu hidup kita didunia, namun setidaknya –dalam konteks tulisan ini- kita akan lihat bahwa semua itu juga dipengaruhi oleh sistem penyambutan yang selama ini berlangsung ditengah kehidupan kemahasiswaan.
Secara umum saya sebutkan bawa seluruh sistem penyambutan mahasiswa di lingkungan kampus ini membawa perubahan yang justru tidak membebaskan mereka dari keterkekangan, keterkungkungan –katakanlah dari sejarah, keluarga, sistem feodal, penjajahan dan yang selama ini menjadi jargon kita, sistem sekolah yang tidak lagi cocok dengan dunia kampus- dan hanya mejadikannya mereka orang-orang yang penurut, dan banyak yang tidak berubah sedikitpun seeprti apa yang selama ini diinginkan. Sebut saja rangkaian acara dengan tetek-bengek segala macem, dengan ini dan itu, dan yang lebih penting aturan ini aturan itu, perintah ini perintah itu.
Kebanyakan dari mereka bisa melakukannya dengan senang, menurut saja atas nama perkenalan. Mereka melakukan sesuatu tanpa tahu untuk apa dan ketika ada yang mempertanyakan kenapa, untuk apa, senioritas menjadi jawaban. Hal inilah yang nantinya tertanam secara permanen hari demi hari dalam kepribadian kebanyakan kita, individu-individu yang menurut saja atas semua perintah, aturan, kebijakan, tanpa pernah sadar bahwa itu semua berpengaruh terhadap kepentingan diri pribadi, tentu saja dalam interaksi kita sehari-hari baik dengan pertemanan, dalam kelompok, jurusan, fakultas, universitas, pemerintah dan masyarakat dan bangsa ini.
Dari setiap bentuk kegiatan yang dilakukan akan menegaskan satu kepribadian dalam diri seseorang. Proses enkulturasi yang dijalani setiap orang akan menentukan seperti apa mereka nantinya, orang yang merdeka kah atau hanya menjadi seorang yang terpenjara.
Penggalan kalimat pembuka diatas merupakan kata pembuka dari film the butterfly effect.[9] Memang sedikit terkesan tidak masuk akal, bahwa satu kepakan sayap kupu-kupu mampu membuat porak-poranda Indonesia karena tornado. Bagaimana bisa? Barangkali pertanyaan kita semua. Namun paparan cerita yang bisa kita saksikan dari film ini membuktikan bahwa semua itu bukanlah akal-akalan penulis skenario saja, namun lebih dari itu ia ia memaparkan bahwa semua hal, walaupun sebuah hal yang kecil sekalipun, dapat memberikan pengaruh yang mungkin saja adalah sesuatu yang besar. Tentu saja kita akan lebih memahami apa yang dimaksud oleh kalimat diatas setelah menyaksikan dengan seksama satu tontonan tersebut. Namun satu yang pasti adalah kepastian bahwa setiap hal yang terjadi hari ini yang menyangkut dengan pilihan-pilihan manusia tidak akan terlepas dari apa yang akan mereka jalani di masa yang akan datang. Sehingga satu kepakan sayap kupu-kupu pun adalah satu hal yang terlalu penting dan berharga untuk tidak diacuhkan.
Terakhir dan sebagai penutup, dibawah ini saya sadurankan beberapa penggal paragraf yang -sekali lagi- menggambarkan bagaimana proses enkulturasi seseorang mempengaruhi pengetahuan dan kepribadian dan bagaimana ia mengubah dunia.[10]
Adolf murid yang rajin, kalau ulangan tidak pernah curang, hampir tidak pernah mangkir dari sekolah, dan dirapornya selalu berderet huruf A. dia senang menggambar, tak banyak bicara dan tak pernah bikin ulah.satu-satunya keluhan para guru adalah si Adolf ini kurang total meyimak pelajaran. Menurut mereka, dia terlalu berbakat jadi pelamun dan pemimpi. Kampir semua orang khawatir kalau-kalau ia kelak jadi penyair.
Orang-orang menghela nafas lega ketika tahun demi tahun adolf belum juga menampakkan gejala-gejala kreatif yang ditakutkan itu. Malah adolf menampilkan pilihan yang –ditinjau dari kaca mata moneter maupun kebugaran- lebih sehat: adolf ingin jadi tentara.
Namun salah jika dikira adolf akan sembuh dari mimpi hanya karena tidur mengeloni bedil. Di kemudian hari dunia ternganga menghadapi kenyataan antik yang selalu gagal mengejar dia: lebih baik dirundung penyair berpuisi jelek ketimbang pemimpi bersenapan. Lebih-lebih pemimpi bersenapan yang mengira dirinya titisan para dewa dan menulis buku untuk membuktikan teorinya.
Adolf, sang fuhrer, menggelar impian kolosal, melibatkan jutaan figuran yang berperan sebagai korban, mengupah jutaan aktor lain, yang, seperti kata Bertrand Russell, “barangkali beberapa diantaranya benar-benar manusia-manusia keji berdarah dingin, namun sebagian besar mungkin kurang lebih gila.”
Dan sejarah membuktikan bahwa impian adolf bukan hanya kesesatan mental pribadi melainkan impian kebayakan orang. Impian yang ditengah bangsa-bangsa beradab, bangsa-bangsa seklahan, diselundupkan lewat pintu belakang untuk berpesta pora dikegelapan, menunggu hingga iklim memungkinkan pelepasannya kejalanan. Menunggu kemarau kemarahan yang mengabsahkan hujan batu, peluru dan pembumihangusan. Rwanda dan Serbia membuktikan betapa universal impian adolf disegala zaman.
Ibunya yang tak habis-habis mondar-mandir mencuci dan memasak, bapaknya yang sibuk mengangkut setiap sen miliknya ke bank – pernah terbersitkah dikepala mereka bahwa si adolf yang luntang-lantung yang akan mendaftar Akademi Seni Rupa itu kelak akan masuk ensiklopedi tiran segala zaman? Dan adolf pun akan “mencuci” konstelasi ras dan menimbun harta rampasan? Tidak adakah yang bisa mengaku menangkap basah jiwa Adolf kecil sebelum sempai tumbuh lebat? Tidakkah disekolah itu Adolf bukan hanya disuruh menghapal berapa jumlah negara taklukan Alexnder dan berapa besar pasukan Napoleon, tetapi juga disekap hawa agama yang konon menjunjung tinggi cinta-kasih sebagai satu-satunya pegangan?
Di kota kecil Linz yang suram di Austria saat itu, kala guru-guru berciloteh tentang kekaisaran Romawi, Alexander yang Agung, dan Napoleon Bonaparte, ketika si Adolf duduk rapi dibangku sekolah menengah yang kusam, adakah yang tahu bahwa ia menyimak dan memupuk impian dengan segenap jiwanya?
[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta,1990,hal 102
[2] Apakah kepribadian ini juga dipengaruhi oleh faktor internal seperti aspek biologis (seperti gen) manusia adalah pertanyaan lain yang juga menarik untuk ditelusuri. Sejauh ini penulis belum mengetahui perihal yang satu ini.
[3] Lebih lanjut tentang pengertian ini ada dalam buku Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta,1990.
[4] Baca Mimpi-Mimpi Einstein, penerbit dan penulis tidak ingat.
[5] Tentu saja dalam hal ini kita tidak menggunakan logika melompat A menyebabkan Z, tapi A mempengaruhi sehingga lahir Z. Kita tidak bisa menyebutkan bahwa karena ketidaksombongan si mahasiswalah negara bisa terselamatkan, namun ia berperan disana. Dan sudah pasti ada terdapat ribuan, jutaan alasan lain yang mendukung terciptanya diskusi yang baik tersebut, yang mana pada akhirnya alasan-alasan tersebut kembali pada manusia dan kepribadiannya.
[6] Selanjutnya baca, Steven D Levitt dan Stephen J Dubner, Freakonomics, Penguin Books (Australia), 2006.
[7] Bukan forum-forum diskusi formal tetapi, forum-forum diskusi dikalangan mahasiswa saja.
[8] Sadar politik disini tidak dimaksudkan sebagai kesadaran politik secara khusus yang selama ini kita pakai dalam kehidupan kenegaraan, tetapi lebih bersifat general untuk semua hal. Kesadaran diri atas kepentingan-kepentingan pribadi dan kemauan untuk memperjuangkannya.
[9] Eric Bress and J Mackey Gruber, The Butterfly Effect, New Line Cinema, 2002.
[10] Saduran ini diambil dari kata pengantar buku Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis, Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm dkk, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.
Satu hal yang membingungkan ketika melihat topik tentang kepribadian dalam kelas Pengantar Antropologi adalah hubungan yang sangat jauh antara kajian kepribadian yang bersifat personal dengan ilmu antropologi yang sebagaimana kita ketahui berbicara seputar masyarakat dan kebudayaannya. Namun setelah membalik-balik lagi bahan bacaan yang ada dan berupaya mengingat beberapa hal yang barangkali berkaitan dengan permasalahan ini, maka tidak menjadi sesuatu yang spesial (barangkali karena memang tidak bisa) ketika dua cabang ilmu ini (Antropologi dan Psikologi) kita pisahkan satu sama lain. Seperti halnya ketika kita dinaungi oleh satu sistem kehidupan, begitu juga dengan ilmu pengatahuan yang berada dalam satu sistem yang berkaitan satu sama lain.
Tulisan ini tidak lebih dari sebuah kesimpulan pribadi (katakanlah sebuah resume) dari kuliah pengantar antropologi, yakninya Kepribadian Manusia dan Kebudayaan, dan akan mengkhususkan berbicara tentang bagaimana proses peralihan ilmu atau kajian psikologi yang spesifik keranah antropologi yang lebih general. Dimana nantinya akan terjawab bagaimana kepribadian seseorang (individu) mempengaruhi perilaku dan segala tindakannya dan setiap tindakannya akan mempengaruhi alam semesta (budaya manusia). Nanti juga akan kita lihat bagaimana proses itu berlangsung dalam contoh-contoh dan analogi.
Tadi telah sedikit disinggung bahwa kesadaran manusia itu di(ter)bentuk dalam proses enkulturasi sepanjang hidupnya, sebuah proses interaksi manusia dengan lingkungannya. Proses enkulturasi inilah yang nantinya menyusun sebuah sistem kepribadian yang terdiri atas unsur-unsur pembentuk kepribadian. Yang pertama adalah pengetahuan, yang kedua adalah perasaan dan yang ketiga adalah dorongan naluri.
Pengetahuan lahir melalui proses persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi.[3] Sedangkan perasaan merupakan suatu keadaan dalam kesdaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dunilainya sebagai sesuatu yang positif atau negatif yang berimbas pada lahirnya kehendak, keinginan, emosi yang bersifat subjektif. Berbeda dengan perasaan yang pada prinsipnya dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang, dorongan naluri tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuan, tetapi karena sudah terkandung dalam organismanya, dan khususnya yang terdapat dalam gen-nya sebagai naluri. Para ahli psikologi menyebut naluri ini sebagai “dorongan” (drive) yang terdiri atas dorongan untuk bertahan hidup, dorongan sex, dorongan untuk berusaha mencari makan, dorongan untuk bergaul dan berintegrasi, dorongan untuk meniru tingkah-laku sesama, dorongan untuk berbakti dan dorongan untuk keindahan. Unsur-unsur inilah yang menjadi motif seseorang melakukan suatu tindakan dalam kehidupannya.
Disini dapat kita lihat bagaimana pengetahuan dengan proses-proses yang melatarbelakanginya (persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi) dan juga perasaan yang juga dibentuk oleh pengaruh pengetahuan, berperan sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Naluri yang bersifat biologis genetik yang boleh dikatakan sudah menjadi general bagi setiap manusia, berbeda dengan pengetahuan dan perasaan yang lahir dari proses-proses yang tidak sama satu manusia dengan manusia lainnya. Proses pengetahuan yang berbeda tentu akan melahirkan pengetahuan dan perasaan yang berbeda pula.
Kembali pada tindakan / prilaku manusia. Seperti yang telah ditegaskan bahwa tindakan dan perilaku manusia itu dipengaruhi oleh sistem pengetahuan, perasaan dan naluri yang dimiliki manusia tersebut. Tindakan-tindakan dan perilaku-perilaku tersebut menyangkut pada pilihan-pilihan sadar maupun tidak sadar hidup seseorang. Ia bisa berbentuk pilihan untuk makan sesuatu, minum sesuatu, belajar sesuatu, memilih mata kuliah tertentu, menulis sesuatu, memilih membeli buku tertentu saja, berbicara dengan seseorang dan tidak berbicara dengan seorang yang lain, berfikir, bergabung dengan satu komunitas, masyarakat, berintegrasi dan berinteraksi, berteman, menikah, memiliki anak, mendidik ataupun tidak ikut campur dalam pendidikan itu, meneriakinya, diam, marah, dan begitu banyak tindakan/prilaku-prilaku lain yang sudah menjadi keseharian manusia yang bisa saja sadar dilakukan, maupun dalam keadaan tidak lagi sadar. Bagaimana dengan kebalikan dari pilihan-pilihan yang telah disebut diatas? Saya fikir itu juga pilihan-pilihan dan bagaimana banyak dan kompleksnya manusia dengan berbagai pilihan-pilihan hidupnya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa setiap pilihan yang dilakukan oleh setiap manusia akan menciptakan satu dunia baru.[4]
Selanjutnya pilihan-pilihan hidup ini berdialektika dengan pengatahuan, perasaan (baru) dan naluri yang menyusun sistem kepribadian manusia, sehingga melahirkan manusia dengan tindakan dan perilaku yang baru pula. Proses ini terus berlangsung sepanjang sejarah manusia dan membentuk sejarah manusia, baik ia secara individu maupun ia sebagai anggota dari keluarga, anggota dari klen, mayarakat, bangsa. Tidak hanya itu, proses ini juga akan melahirkan dan mempengaruhi semua hal yang berkaitan dengan manusia yang bisa kita sebut dengan manusia dan kebudayaannya.
Untuk mempermudah penjelasan atas hal ini, ada baiknya kita melihatnya dalam contoh-contoh, bagaimana kepribadian itu mampu memberikan pengaruh pada sistem kehidupan manusia.
Kita barangkali tidak pernah menyadari bahwa sesuatu yang kita saksikan hari ini banyak yang disebabkan oleh satu hal yang “sepele” dan tidak masuk akal dari seseorang yang tidak jelas asal-usulnya ditengah masyarakat. Namun sesungguhnya sesuatu itu adalah sangat luar biasa dan berangkat dari satu proses yang tidak pernah terbayangkan sebelumya. Misalnya, tercatat dalam sejarah sebuah bangsa bahwa sebuah kelompok mahasiswa telah menolong dan menyelamatkan pemerintahan dari kehancuran. Hal ini dikarenakan dalam satu diskusi dikalangan mahasiswa, melahirkan beberapa rekomendasi untuk pemerintah dalam hal penanganan dan pemberantasan korupsi dalam birokrasi, sehingga pemerintahan bisa mengambil langkah-langkah nyata penyelamatan negara. Rekomendasi ini lahir dari satu diskusi yang dimulai dari pemaparan salah seorang mahasiswa yang sebelumnya memang sudah diharapkan kehadirannya. Sehingga pada saat berikutnya, mahasiswa-mahasiswa yang lain terpancing memberikan ide-ide cerdasnya.
Barangkali tidak terbayangkan kalau mahasiswa pertama tadi adalah seorang yang sedikit berkepribadian sombong dan angkuh, yang di(ter)bentuk dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya dirumah, sehingga dengan seenaknya merendahkan kawan-kawan yang lain karena alasan ia merasa lebih pintar dan diharapkan. Tentu saja barangkali mahasiswa-mahasiswa yang lain tidak begitu senang karena pengetahuan yang dimiliki oleh kebanyakan anggota diskusi menyatakan bahwa hal yang seperti itu adalah satu hal yang negatif dan merusak perasaan. Penolakan tentu saja tidak dapat terhindarkan, sehingga diskusi tidak berjalan dengan baik dan hasilnyapun tentu tidak sesuai dengan yang diharapkan, menyelamatkan negara. Hal ini juga barangkali dapat disebabkan karena si mahasiswa pertama tadi ternyata tidak menghargai waktu, datang terlambat dan merusak mood kawan-kawan yang lain.
Dari sini dapat kita lihat bagaimana sebuah kepribadian memberikan pengaruh besar terhadap sesuatu didepannya. Kepribadian seseorang yang sombong dan tidak menghargai waktu ternyata telah menghilangkan sebuah harapan penyelamatan negara. Dan sebaliknya seorang mahasiswa yang berkepribadian tidak sombong dan sedikit menghargai waktu telah mampu menciptakan dan mempengaruhi sebuah kelompok diskusi, berperan serta dalam membangun sirkulasi diskusi yang baik sehingga mampu melahirkan rekomendasi penyelamatan negara.[5] Kepribadian-kepribadian seperti ini tentu saja tidak lahir dengan sendirinya, ia lahir dari proses persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi yang dilalui oleh si mahasiswa sepanjang hidupnya. Termasuk juga dengan apa yang dialami oleh kawan-kawan yang lain perihal sombong dan tidak sombong, tepat waktu dan tidak tepat waktu.
Contoh lain adalah seperti apa yang dianalisis oleh Steven D Levitt dan Stephen J Dubner dalam salah satu tulisannya[6], bahwa meningkatnya kriminalitas dalam beberapa dekade terakhir adalah sebagai akibat dari di illegalkannya praktek aborsi dibanyak negara. Sebuah keputusan (pilihan) yang banyak diambil banyak pemimpin diberbagai negara, oleh Steven dan Stephen boleh jadi sangat berpengaruh besar pada peningkatan tingkat kejahatan di dunia. Mereka menyebutkan, dengan di illegalkannya praktek aborsi maka akan berdampak makin banyaknya lahir kedunia anak-anak yang katakanlah berlatar belakang sejarah tidak baik yang sebagian besar terdapat didaerah-daerah pinggiran kota. Hal ini akan meningkatkan jumlah anak-anak yang tidak terurus dengan baik akibat kemiskinan. Dan sebagian dari mereka hidup tanpa jati diri karena tidak pernah tahu asal usul, hidup luntang lantung dan berpendidikan rendah. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi alasan bagaimana meningkatnya tingkat kriminalitas di banyak tempat. Dengan begitu, me-legalkan praktek aborsi setidaknya mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya kriminalitas diberbagai tempat. Mungkin terdengar agak sedikit gila, apalagi ditengah pandangan masyarakat kita yang penuh norma. Namun bukan maksud untuk tidak memperdebatkan itu, dalam hal ini saya cuma ingin menggambarkan bagaimana “semua hal” berada dalam satu sistem yang saling mempengaruhi, sekalipun ia suatu hal yang buruk sekalipun.
Satu hal lagi yang menarik untuk dijadikan contoh adalah bagaimana dilingkungan kita sendiri tersusun suatu budaya apatis untuk sebagian besar manusianya (mahasiswanya). Beberapa forum diskusi yang pernah saya ikuti [7]menilai bahwasanya sebagaian besar mahasiswa di lingkungan fakultas ini sangat apatis dan cenderung tidak sadar politik[8] sedikitpun. Dan kalaupun ada diantara mereka yang memiliki kesadar politik itu, mereka tidak pernah lebih dari hanya mengetahui dan tidak pernah melakukan apa-apa ketika kepentingannya terganggu atau sedikitnya terancam. Kebanyakan hanya diam, dan beberapa hanya mengumpat dibelakang tanpa lakukan apapun yang lebih kongkrit untuk memperjuangkan atau melakukan perubahan.
Barangkali kita tidak akan lakukan analisis mendalam bagaimana kepribadian umum kita selama ini tercipta dari awal waktu hidup kita didunia, namun setidaknya –dalam konteks tulisan ini- kita akan lihat bahwa semua itu juga dipengaruhi oleh sistem penyambutan yang selama ini berlangsung ditengah kehidupan kemahasiswaan.
Secara umum saya sebutkan bawa seluruh sistem penyambutan mahasiswa di lingkungan kampus ini membawa perubahan yang justru tidak membebaskan mereka dari keterkekangan, keterkungkungan –katakanlah dari sejarah, keluarga, sistem feodal, penjajahan dan yang selama ini menjadi jargon kita, sistem sekolah yang tidak lagi cocok dengan dunia kampus- dan hanya mejadikannya mereka orang-orang yang penurut, dan banyak yang tidak berubah sedikitpun seeprti apa yang selama ini diinginkan. Sebut saja rangkaian acara dengan tetek-bengek segala macem, dengan ini dan itu, dan yang lebih penting aturan ini aturan itu, perintah ini perintah itu.
Kebanyakan dari mereka bisa melakukannya dengan senang, menurut saja atas nama perkenalan. Mereka melakukan sesuatu tanpa tahu untuk apa dan ketika ada yang mempertanyakan kenapa, untuk apa, senioritas menjadi jawaban. Hal inilah yang nantinya tertanam secara permanen hari demi hari dalam kepribadian kebanyakan kita, individu-individu yang menurut saja atas semua perintah, aturan, kebijakan, tanpa pernah sadar bahwa itu semua berpengaruh terhadap kepentingan diri pribadi, tentu saja dalam interaksi kita sehari-hari baik dengan pertemanan, dalam kelompok, jurusan, fakultas, universitas, pemerintah dan masyarakat dan bangsa ini.
Dari setiap bentuk kegiatan yang dilakukan akan menegaskan satu kepribadian dalam diri seseorang. Proses enkulturasi yang dijalani setiap orang akan menentukan seperti apa mereka nantinya, orang yang merdeka kah atau hanya menjadi seorang yang terpenjara.
Penggalan kalimat pembuka diatas merupakan kata pembuka dari film the butterfly effect.[9] Memang sedikit terkesan tidak masuk akal, bahwa satu kepakan sayap kupu-kupu mampu membuat porak-poranda Indonesia karena tornado. Bagaimana bisa? Barangkali pertanyaan kita semua. Namun paparan cerita yang bisa kita saksikan dari film ini membuktikan bahwa semua itu bukanlah akal-akalan penulis skenario saja, namun lebih dari itu ia ia memaparkan bahwa semua hal, walaupun sebuah hal yang kecil sekalipun, dapat memberikan pengaruh yang mungkin saja adalah sesuatu yang besar. Tentu saja kita akan lebih memahami apa yang dimaksud oleh kalimat diatas setelah menyaksikan dengan seksama satu tontonan tersebut. Namun satu yang pasti adalah kepastian bahwa setiap hal yang terjadi hari ini yang menyangkut dengan pilihan-pilihan manusia tidak akan terlepas dari apa yang akan mereka jalani di masa yang akan datang. Sehingga satu kepakan sayap kupu-kupu pun adalah satu hal yang terlalu penting dan berharga untuk tidak diacuhkan.
Terakhir dan sebagai penutup, dibawah ini saya sadurankan beberapa penggal paragraf yang -sekali lagi- menggambarkan bagaimana proses enkulturasi seseorang mempengaruhi pengetahuan dan kepribadian dan bagaimana ia mengubah dunia.[10]
Adolf murid yang rajin, kalau ulangan tidak pernah curang, hampir tidak pernah mangkir dari sekolah, dan dirapornya selalu berderet huruf A. dia senang menggambar, tak banyak bicara dan tak pernah bikin ulah.satu-satunya keluhan para guru adalah si Adolf ini kurang total meyimak pelajaran. Menurut mereka, dia terlalu berbakat jadi pelamun dan pemimpi. Kampir semua orang khawatir kalau-kalau ia kelak jadi penyair.
Orang-orang menghela nafas lega ketika tahun demi tahun adolf belum juga menampakkan gejala-gejala kreatif yang ditakutkan itu. Malah adolf menampilkan pilihan yang –ditinjau dari kaca mata moneter maupun kebugaran- lebih sehat: adolf ingin jadi tentara.
Namun salah jika dikira adolf akan sembuh dari mimpi hanya karena tidur mengeloni bedil. Di kemudian hari dunia ternganga menghadapi kenyataan antik yang selalu gagal mengejar dia: lebih baik dirundung penyair berpuisi jelek ketimbang pemimpi bersenapan. Lebih-lebih pemimpi bersenapan yang mengira dirinya titisan para dewa dan menulis buku untuk membuktikan teorinya.
Adolf, sang fuhrer, menggelar impian kolosal, melibatkan jutaan figuran yang berperan sebagai korban, mengupah jutaan aktor lain, yang, seperti kata Bertrand Russell, “barangkali beberapa diantaranya benar-benar manusia-manusia keji berdarah dingin, namun sebagian besar mungkin kurang lebih gila.”
Dan sejarah membuktikan bahwa impian adolf bukan hanya kesesatan mental pribadi melainkan impian kebayakan orang. Impian yang ditengah bangsa-bangsa beradab, bangsa-bangsa seklahan, diselundupkan lewat pintu belakang untuk berpesta pora dikegelapan, menunggu hingga iklim memungkinkan pelepasannya kejalanan. Menunggu kemarau kemarahan yang mengabsahkan hujan batu, peluru dan pembumihangusan. Rwanda dan Serbia membuktikan betapa universal impian adolf disegala zaman.
Ibunya yang tak habis-habis mondar-mandir mencuci dan memasak, bapaknya yang sibuk mengangkut setiap sen miliknya ke bank – pernah terbersitkah dikepala mereka bahwa si adolf yang luntang-lantung yang akan mendaftar Akademi Seni Rupa itu kelak akan masuk ensiklopedi tiran segala zaman? Dan adolf pun akan “mencuci” konstelasi ras dan menimbun harta rampasan? Tidak adakah yang bisa mengaku menangkap basah jiwa Adolf kecil sebelum sempai tumbuh lebat? Tidakkah disekolah itu Adolf bukan hanya disuruh menghapal berapa jumlah negara taklukan Alexnder dan berapa besar pasukan Napoleon, tetapi juga disekap hawa agama yang konon menjunjung tinggi cinta-kasih sebagai satu-satunya pegangan?
Di kota kecil Linz yang suram di Austria saat itu, kala guru-guru berciloteh tentang kekaisaran Romawi, Alexander yang Agung, dan Napoleon Bonaparte, ketika si Adolf duduk rapi dibangku sekolah menengah yang kusam, adakah yang tahu bahwa ia menyimak dan memupuk impian dengan segenap jiwanya?
[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta,1990,hal 102
[2] Apakah kepribadian ini juga dipengaruhi oleh faktor internal seperti aspek biologis (seperti gen) manusia adalah pertanyaan lain yang juga menarik untuk ditelusuri. Sejauh ini penulis belum mengetahui perihal yang satu ini.
[3] Lebih lanjut tentang pengertian ini ada dalam buku Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta,1990.
[4] Baca Mimpi-Mimpi Einstein, penerbit dan penulis tidak ingat.
[5] Tentu saja dalam hal ini kita tidak menggunakan logika melompat A menyebabkan Z, tapi A mempengaruhi sehingga lahir Z. Kita tidak bisa menyebutkan bahwa karena ketidaksombongan si mahasiswalah negara bisa terselamatkan, namun ia berperan disana. Dan sudah pasti ada terdapat ribuan, jutaan alasan lain yang mendukung terciptanya diskusi yang baik tersebut, yang mana pada akhirnya alasan-alasan tersebut kembali pada manusia dan kepribadiannya.
[6] Selanjutnya baca, Steven D Levitt dan Stephen J Dubner, Freakonomics, Penguin Books (Australia), 2006.
[7] Bukan forum-forum diskusi formal tetapi, forum-forum diskusi dikalangan mahasiswa saja.
[8] Sadar politik disini tidak dimaksudkan sebagai kesadaran politik secara khusus yang selama ini kita pakai dalam kehidupan kenegaraan, tetapi lebih bersifat general untuk semua hal. Kesadaran diri atas kepentingan-kepentingan pribadi dan kemauan untuk memperjuangkannya.
[9] Eric Bress and J Mackey Gruber, The Butterfly Effect, New Line Cinema, 2002.
[10] Saduran ini diambil dari kata pengantar buku Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis, Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm dkk, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.
