Saya Bisa Saja Salah, Begitupun Siapa Saja
Betapa besar peran akal menciptakan apa yang disebut perbedaan. Bahwasanya perbedaan bukanlah hanya sebuah “natural condition” yang datang begitu saja sebagaimana pandangan para evolusionis atau “sunatullah” sebagaimana ketentuan-ketentuan lain yang telah ditetapkan Tuhan, tetapi juga bagian yang tak terlepaskan dari subjektivitas manusia sebagai makhluk sempurna, dengan akal, nafsu dan kemerdekaannya atas pilihan-pilihan.
Pilihan-pilihan inilah yang kemudian mengedepankan ke-aku-an manusia yang berdiri atas pembenaran-pembenaran dan juga barangkali di atas “kebenaran” itu sendiri. Pilihan-pilihan tersebut yang di-konklusikan dalam apa yang dinamakan ideologi, idealisme, baik yang bersifat sosial-politis maupun individualistik-yang barangkali sudah tidak bisa di bantah lagi-berangkat dari historikal-kesejarahan seseorang dalam proses enkulturasi pengetahuan sepanjang hidupnya.
Sebut saja skisme (perpecahan) yang terjadi di kalangan kristiani pada masa awal kebangkitan Islam, sebagaimana digambarkan indah oleh Duran:
“ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur, di Barat Kristianitas terbelah menjadi dua: gereja Romawi dan gereja Yunani. Mereka berpisah seperti “a biological species devided in space and diversified in time”. Kristen Yunani berdo’a sambil berdiri, Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman, di Romawi dengan pemercikan. Pernikahan dilarang bagi pastur Romawi, tetapi di bolehkan bagi pastur Yunani. “kiai” Yunani memelihara janggut, sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya…” (Duran, 1950:544 sebagaimana di kutib Jalaluddin Rahmat, 2006:66)
Berikutnya perpecahan ini-setidaknya -telah memposisikan Protestan dan Katolik pada posisi berhadap-hadapan, kalau tidak ingin di sebut berlawanan, bahkan hingga hari ini.
Dalam gambaran lain dapat kita lihat bagaimana pemberontakan Aisyah terhadap kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, pertentangan khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah setelah perjanjian Shiffin, atau perlawanan Husayn ibn Ali terhadap Yazid. Skisme-skisme ini telah melahirkan sampai hari ini polarisasi Sunni-Syiah. Konsep imamah di satu sisi dan khalifah di sudut yang lain. Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Maliki, mazhab-mashab besar yang telah “menggiring” umat Islam dalam kerangka-kerangka keagamaan yang berbeda (baca:beragam), saya fikir adalah bentuk dari pengaruh akal manusia dalam menafsirkan agama itu sendiri. Barangkali karena Al-Qur’an itu sendiri yang menyisakan sebagian ruang bagi penganutnya untuk ber-ijtihad.
Pemahaman-pemahaman ini, perbedaan-perbedaan ini-seperti yang telah disebut di atas- lahir dari proses enkulturasi manusia-manusianya. Baik pembacaan mereka terhadap teks suci yang mutlak sifatnya, juga dari hal-hal lain yang barangkali sering luput dari jangkauan kita dan terutama mereka sendiri.
Satu contoh, seperti apa yang dijelaskan oleh Nicholson (1969), Wellhausen (1927), Goldziher (1967) yang di kutib Jalaluddin Rahmat (2006:81) dalam Jafri (1967), menjelaskan secara historis-antropologis bahwa terjadinya polarisasi di tubuh umat Islam dalam sisi Syi’ah dan Sunni berangkat dari asumsi bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisir atas dasar kesukuan, kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting, dan yang kedua adalah karena bangsa arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri atas dua sub-kultur, Arab Selatan dan Arab Utara, dimana kedua sub-kultur ini menopang Bani Hasyim disatu sisi dan Bani ‘Abd al-Syam (bani Umayyah) disisi yang lain. Selanjutnya dari kedua sub-kultur inilah berkembang skisme Sunni-Syi’ah. (Jalaluddin Rahmat. 2006:84).
Pernyataan ini menjelaskan bagaimana sistem pengetahuan juga terpengaruh dengan apa yang dinamakan pengalaman (historis), dan tentu saja akal berperan penting disini.
Perbedaan-perbedaan ini sebagai hasil dari pengaruh subjektifitas manusia, tidak hanya hinggap dalam wacana-wacana besar seperti yang yang disinggung di atas, tetapi juga merasuki sisi-sisi lain ruang hidup keseharian kita ber-hablu minannas, bernegara, bermasyarakat, dan bekeluarga. Mulai dari “political awareness” masing-masing kubu yang mengusung warna-warni warna dalam konstelasi wacana dan praxis politik, hingga persoalan bagaimana seharusnya ber-otonomi di tengah ke-egoisan masing-masing, pusat dan daerah. Mulai dari pertarungan konsep penerimaan mahasiswa baru sampai pada pilihan berambut panjang dan bersandal jepit-pun jadi hal yang diperdebatkan. Tentu saja-sekali lagi- semua pandangan itu lahir dari satu pengalaman dan pemahaman yang berbeda. Satu hal yang juga tidak terbantahkan adalah-seperti juga wacana-wacana besar di atas, dan barangkali menjadi satu hal yang sama-sama kita takutkan, bahwa kesemua itu tidak jarang yang berakhir pada kesimpulan saling meng-kafirkan (baca:pemaksaan sepihak satu kesimpulan) satu sama lain.
Apa yang akan terjadi dari hal semacam ini adalah satu bentuk dominasi pemahaman satu pihak-para ilmuwan, cendikiawan, penguasa, dan orang-orang beranggapan bahwa dia adalah ”kebenaran”-terhadap suatu diskursus, satu hal yang seharusnya sama-sama kita takutkan. Karena diantaranya akan ada pengedepanan ”self” disatu sisi dan penyingkiran ”others” disisi yang lain. Toh Aliya Harb telah memperingatkan kita bahwa ”kebenaran agama pun sangat relatif sifatnya”.
Yang kita butuhkan hanya komunikasi dan saling menghargai bahwa kita masing-masing menjalankan sebuah proses yang berbeda, dan itu tidaklah salah. Dan membuat kesepakatan yang adil ketika ia saling berbenturan. Kita harus menyadari bahwa apa yang kita ”anggap benar”, hanyalah sebuah ”anggapan”, apa yang kita ”anggap salah”, hanyalah sebuah ”anggapan”, yang bisa saja salah, yang belum tentu adalah kebenaran dan kesalahan itu sendiri, terlepas dari siapa saja yang mengatakannya, saya, anda, dosen, birokrat kampus, penguasa dan siapa saja.
Entah untuk apa tulisan ini harus sebegini panjangnya kalau hanya untuk mengingatkan kita kembali atas sebuah kebijaksanaan dari ali syari’ati ”saya benar, tapi mungkin saja salah. Anda salah, tapi mungkin saja benar”, sebuah ruang yang mesti kita sisihkan untuk sesuatu yang tidak terfikirkan oleh subjektifitas kita sebagai seseorang, terlebih lagi ketika berhadapan dengan yang lain. Sebuah sikap yang optimis terhadap prinsip dan sekaligus keterbukaan dan penghargaan akan perbedaan. Barangkali karena kita tidak terlalu cerdas melihat bahwa penindasan satu atas yang lain itu tidaklah jauh dari kita. Atau barangkali kita bagian dari mereka, entah sebagai penindas, atau sebagai yang ditindas.[2005]
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment